Pada tahun 1980-an, selama pemerintahan Chun Doo-hwan, tuntutan untuk mengungkap kebenaran tentang kerusuhan mahasiswa di Sekolah Tinggi Pendidikan Samcheong semakin meningkat. Saat itu, Letnan Kolonel Han Dong-chul mengungkapkan melalui pengakuan hati nuraninya bahwa para mahasiswa yang ditahan telah melakukan perlawanan terhadap perlakuan kejam dan melakukan demonstrasi, yang kemudian ditembak mati oleh militer di markas mereka. Peristiwa ini semakin diakui sebagai bagian dari gerakan demokrasi, dengan korban menuntut tanggung jawab negara dan kompensasi serta pengungkapan kebenaran. Para ahli berpendapat bahwa pengungkapan kebenaran kolektif yang mempertimbangkan sifat peristiwa lebih penting daripada kompensasi individu. Selain itu, penyelidikan menyeluruh tentang struktur pelaku dan identifikasi aspek-aspek kerusakan yang tersembunyi juga sangat penting.