Generasi 20-30an menjadi pusat popularitas rajut sebagai hobi. Belajar pola dari YouTube atau Instagram dan bergabung dengan komunitas online seperti Dangren untuk mengikuti pertemuan telah menjadi hal yang umum. Rajut memberikan manfaat berupa rasa pencapaian dan ketenangan pikiran karena prosesnya melibatkan menyatukan benang satu per satu untuk menghasilkan produk akhir secara bertahap. Para ahli menganalisis tren ini sebagai upaya generasi muda untuk menggabungkan ekspresi diri dan konsumsi melalui aktivitas analog, sebagai pelarian dari kelelahan akibat lingkungan digital. Rajut diinterpretasikan sebagai perpanjangan dari budaya 'halmeoni' yang mencerminkan keinginan untuk mendapatkan ketenangan dan kesenangan dengan menjauh sejenak dari era digital.