Akhir pekan lalu saya menonton film Amerika berjudul ' 12 Years a Slave ' yang diangkat dari kisah nyata..
Menurut saya itu film yang benar~benar bagus dan membuat kita berpikir banyak hal..
Kalau saya ceritakan garis besarnya..
Pada tahun 1800-an di Amerika, di wilayah utara orang kulit hitam bisa hidup dengan bebas
sementara di wilayah selatan orang kulit hitam masih hidup sebagai budak..
Seorang pria kulit hitam yang hidup sebagai orang merdeka di wilayah utara
makan malam sekaligus minum-minum bersama teman-teman(?) kulit putihnya
dan ketika membuka mata..
dia mendapati dirinya sudah ditangkap oleh pedagang budak..
Tokoh utama dibawa dengan kapal ke wilayah selatan
lalu dijual kepada orang-orang kulit putih dan hidup sebagai budak
dan masa itu berlangsung selama 12 tahun..
Secara kebetulan dia bertemu seorang kulit putih yang berpandangan bahwa semua manusia setara tanpa memandang warna kulit
lalu menceritakan seluruh kisahnya kepada orang itu..
dan berkat laporan orang kulit putih itu, kehidupan 12 tahun sebagai budak pun berakhir..
Setelah pulang ke rumah, tokoh utama menulis buku berjudul 12 Years a Slave..
dan katanya dia melakukan gerakan untuk hak asasi orang kulit hitam..
Hanya karena warna kulitnya berbeda
para budak kulit hitam mengalami pemukulan yang luar biasa dan hidup seperti binatang..
Sepanjang menonton film itu..
saya merasakan betapa kejamnya makhluk bernama manusia ini..
Dan itu juga menjadi kesempatan bagi saya untuk merenungi diri sendiri..
Sejujurnya saya sangat menyukai orang Indonesia..
Mereka optimis..baik hati..
dan itu juga karena mereka punya kelebihan yang ingin saya pelajari..
Tapi saya sendiri pun..
ketika warna kulitnya putih..artinya keturunan Tionghoa, bukan..?
saat menghadapi orang seperti itu..
ah..orang ini pasti berpendidikan tinggi..karena keturunan Tionghoa pasti juga punya uang..
dan pasti punya status sosial juga..sepertinya pikiran itulah yang lebih dulu muncul..
Karena itu sepertinya saya juga tidak mudah melontarkan candaan..
Yang jelas saya lebih berhati-hati dibandingkan terhadap orang Indonesia yang berkulit gelap..
Mungkin di dalam hati saya pun, antara keturunan Tionghoa dan warga lokal Indonesia
saya selama ini hidup dengan sedikit membeda-bedakan..pikiran itu muncul
dan menjadi kesempatan bagi saya untuk introspeksi..
Tapi sebenarnya..
setelah saya renungkan baik-baik
sepertinya saya bukanlah orang yang pantas mendiskriminasi siapa pun
berdasarkan warna kulit..
Ketika saya bekerja di perusahaan pertama saya..
yaitu ketika saya masih lajang
setiap minggu pada hari Sabtu..dan Minggu saya selalu..pergi memancing di laut..
Karena saat itu saya berpandangan bahwa laki-laki tidak perlu memakai tabir surya
kulit saya menjadi sangat gelap..
Saya berangkat Sabtu pagi dan kembali sekitar Minggu siang
dan karena seharian penuh menerima terik matahari khatulistiwa dengan badan telanjang
awalnya kulit wajah saya mengelupas
tapi lama-kelamaan bahkan itu pun tidak terjadi lagi..
Kulit saya benar-benar terbakar hitam legam..
Suatu hari seseorang datang dari Korea untuk perjalanan dinas..
Saat itu saya menjabat sebagai kepala pabrik perusahaan
dan saya mengenakan seragam kerja perusahaan dengan wajah yang sangat gelap..
Ketika Direktur dan tamu dinas itu masuk ke ruangan saya..
saya pun memberi salam..
Begitu saya memberi salam..
tamu dinas itu menatap saya dan Direktur bergantian dengan mata terbelalak..
lalu berkata kepada Direktur kami..
' Wah..bahasa Koreanya bagus sekali ya..'
Dia mengira saya staf lokal..
Sebentar dulu..
Pada bagian di mana orang Korea melihat orang Korea lalu mengira dia orang lokal
mungkin ada yang membayangkan seperti apa rupa saya..
Di antara orang lokal Indonesia ada yang bermata besar..berbulu mata panjang..dan ta~mpan
dengan kulit kecokelatan, bukan..?
Bayangkan saja seperti itu..
tapi kalau bayangan itu agak sulit..
bayangkan wajah Won Bin yang dibuat lebih gelap terbakar matahari..lalu dipakaikan seragam kerja perusahaan di bagian atas..
rambutnya tidak disisir dengan rapi sama sekali dan jenggotnya tumbuh kehitaman — kira-kira begitulah..
Bagi orang Korea yang tidak mengenal saya..
saya tampak seperti staf lokal yang bekerja di perusahaan Korea..
Hanya saja orang Indonesia yang bahasa Koreanya cukup lancar..
Orang kulit putih meremehkan orang kulit hitam
orang kulit hitam meremehkan orang Korea
dan orang Korea meremehkan orang Asia Tenggara..
Kalau ditelusuri lebih dalam
bahkan sesama orang Korea pun, ada yang melihat rumah tempat tinggal..dan mobil yang dikendarai
lalu meremehkan tanpa terang-terangan meremehkan..
Alasan orang kulit putih meremehkan orang kulit hitam mungkin karena kekayaan dan pendidikan..serta warna kulit..
Kalau orang kulit putih dan kulit hitam berkelahi, kebanyakan orang kulit hitam yang menang
tapi karena banyak di antara mereka yang miskin dan kurang berpendidikan, mereka pun diremehkan..
Alasan orang kulit hitam meremehkan orang Korea
saya rasa karena kemampuan fisik kita lebih lemah dibanding mereka..
Alasan orang Korea meremehkan orang Asia Tenggara
sepertinya karena kekayaan..pendidikan..dan perbedaan fisik..serta warna kulit..
Alasan sesama orang Korea saling meremehkan mungkin..
karena perbedaan kekayaan dan kekuasaan..begitulah menurut saya..
Kalau dipikir-pikir..
kulit saya gelap..uang pun tidak punya..kemampuan fisik saya juga tidak istimewa..
Orang seperti saya ini, berani-beraninya meremehkan siapa..
Tiba-tiba saya merasa sungguh beruntung karena setidaknya wajah saya luar biasa tampan..