Museum Nasional Korea (Gukjungbak) kios digital pintar dan layanan seluler 'Galeri Pameran Pintar' menuai kontroversi karena fitur penafsir bahasa isyarat tidak berfungsi dengan baik. Hanya 125 dari 6.000 artefak di galeri permanen Gukjungbak yang menyediakan penafsiran bahasa isyarat, sementara ekspresi dan gerakan avatar AI dianggap tidak alami sehingga sulit dipahami. Hal ini dianalisis sebagai masalah struktural yang muncul karena bahasa isyarat Korea tidak diakui sebagai bahasa independen dalam merancang layanan publik. Para ahli menekankan perlunya perbaikan perangkat yang memenuhi standar aksesibilitas penyandang disabilitas, serta sistem penafsiran video dengan keterlibatan penerjemah bahasa isyarat profesional.