Komite Pendidikan Nasional sedang meninjau rencana untuk memperkenalkan penilaian esai dan subjektif dalam ujian masuk universitas, dan kemungkinan penggunaan teknologi AI otomatis untuk memproses jawaban skala besar juga dipertimbangkan. Namun, tim peneliti dari Korea Institute for Curriculum and Evaluation menyatakan bahwa teknologi AI saat ini sulit untuk menjamin keadilan dan kepercayaan dalam proses penilaian. AI memiliki proses penghitungan skor yang seperti 'kotak hitam' yang tidak transparan, dan berpotensi mengandalkan karakteristik dangkal seperti jumlah kata daripada logika atau alasan jawaban, sehingga mungkin tidak dapat mencapai tujuan evaluasi yang sebenarnya. Oleh karena itu, tim peneliti merekomendasikan agar AI digunakan sebagai alat bantu untuk mendukung penilaian guru, bukan sebagai subjek utama penilaian, dan menekankan perlunya memperkuat peninjauan manusia.