Ning Boyu, seorang insinyur lulusan doktoral dengan gaji Rp 2,5 miliar per tahun di Huawei, memutuskan untuk berhenti dan kembali ke kampung halamannya untuk membantu keluarga bertani jagung. Meskipun awalnya mendapat upah yang jauh lebih rendah, Ning mengaku puas dengan keputusannya. Ia merasa tertekan oleh sistem evaluasi kinerja di Huawei yang berfokus pada target jangka pendek dan khawatir tentang nilai komersial risetnya serta masa depan keahliannya di tengah perkembangan AI. Ning bukanlah satu-satunya "Top Minds" yang meninggalkan Huawei, sebelumnya Peng Zhihui juga mengundurkan diri untuk mendirikan perusahaan robotika yang sukses. Keputusan Ning ini memicu perdebatan di media sosial China tentang apakah ia menyia-nyiakan potensi dan bakatnya.