Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah dan menembus Rp 17.800 per dolar. Bank Indonesia (BI) menjelaskan pelemahan ini disebabkan oleh kekhawatiran akan gejolak geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik tinggi, serta kebutuhan valas importir dan arus keluar dana dari portofolio aset domestik. BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai strategi, termasuk pengelolaan suku bunga pasar uang, transaksi underlying untuk swap lindung nilai, dan intervensi melalui transaksi NDF dan DNDF. Selain itu, BI akan terus berkoordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk mendorong arus masuk modal asing dan mendiversifikasi permintaan valas. Cadangan devisa Indonesia juga mengalami peningkatan menjadi US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.