
Apakah Anda memperhatikan bagaimana anak-anak semakin sering mengeluh "terlalu panas," bahkan sebelum sarapan? Keluhan yang tampaknya kecil ini mungkin bukan hanya kegeraman pagi, tetapi tanda bahwa dampak perubahan iklim mulai merayap ke dalam kehidupan keluarga.
Pikirkan kembali terakhir kali hujan mengubah jalanan Jakarta menjadi sungai perkotaan (yang terjadi baru-baru ini), banjir membuat lalu lintas macet, atau gelombang panas meninggalkan Anda kelelahan di tengah hari. Kemudian datang peringatan banjir yang berbunyi di grup WhatsApp, harga hasil pertanian naik setelah cuaca ekstrem, dan gambar-gambar mengerikan bencana alam yang membanjiri umpan media sosial kami. Frustasi tambahan ini yang menyerang rutinitas kami adalah pengingat yang jelas tentang bagaimana perubahan iklim dapat memiliki dampak langsung pada kehidupan sehari-hari.
Bagi orang tua, tantangan sebenarnya bukan terletak pada mengenali perubahan ini, tetapi menjelaskan kepada anak-anak dengan cara yang jelas, menarik, dan penuh harapan.
“Climate Action 101,” dibuat oleh Nadia Habibie dan Aufar Satria dengan Adinda Olivia sebagai Editor Pelaksana, bertujuan untuk melakukan hal itu. Dengan mengandalkan pengalaman kebijakan, penelitian, dan kreativitas editorial, publikasi akses terbuka ini membuat ilmu iklim mudah diakses, relevan, dan dapat ditindaklanjuti, memungkinkan pembaca muda untuk memahami kompleksitas perubahan iklim dan melihat diri mereka sebagai bagian dari solusi.
Bagaimana Ini Dimulai
Ide untuk “Climate Action 101” muncul dari percakapan yang tulus dan pengalaman sehari-hari. Pada saat itu, Nadia sedang mengadvokasi adopsi kendaraan listrik dan menjadi salah satu pendiri Forum Keberlanjutan Indonesia sebagai sekretaris Dewan Eksekutif Habibie Centre. Risetnya tentang topik tersebut menginspirasinya dan Aufar untuk membaca “How to Avoid a Climate Crisis” karya Bill Gates. Pikiran mereka?
“Ini menarik, tapi Indonesia punya cerita sendiri, solusi sendiri.”
Bagi Nadia, urgensi itu bersifat pribadi, menekankan bahwa kaum muda akan hidup dengan konsekuensinya.
“Kami yang akan menanggung beban perubahan iklim karena kami masih memiliki banyak tahun di depan.”
Rasa tanggung jawab itu mendorong komitmennya untuk pendidikan iklim yang berfokus pada pemuda.
Sementara Nadia terus maju, Adinda membawa energi yang berbeda. Dia melihat dirinya sebagai penerjemah yang mengubah ide-ide kompleks menjadi sesuatu yang mudah dicerna dan menarik. Baginya, proyek ini lahir dari , rasa gelisah yang tidak membiarkannya diam.
Dengan Adinda yang memandu nada, tim menciptakan buku yang memadukan riset dengan cerita dan ilustrasi.
“Kami ingin agar terasa seperti teman yang menjelaskan sesuatu, daripada buku teks yang menggurui,” jelasnya.
Api itu menjadi “Climate Action 101”. Apa yang membuat buku ini sangat unik adalah penggabungan riset dan suara dari kaum muda dari berbagai latar belakang, bersatu untuk mengubah urgensi di balik perubahan iklim menjadi tujuan bersama—lebih seperti petualangan bagi seluruh keluarga daripada tenggat waktu yang menakutkan.
Temui Karakternya
Tiga karakter utama buku (urutan): Susi, Lily, dan Nabil
Untuk mengakar pada realitas, buku ini memperkenalkan tiga karakter utama yang mudah dihubungkan oleh pembaca.
Susi adalah aktivis yang dibentuk oleh laut. Seorang pemuda Bugis dari Sulawesi Selatan yang tumbuh menyaksikan konsekuensi nyata pemutihan karang dan menurunnya stok ikan, dia sedang belajar ilmu kelautan di Bandung dan memimpin kelompok pemuda untuk advokasi laut.
“Susi mewakili suara kaum muda pesisir yang melihat perubahan laut di depan mata mereka,” jelas Nadia.
Nabil adalah komuter metropolitan, seorang profesional Jakarta yang dulunya mengabaikan isu iklim tetapi sekarang menemukan polusi asap mencekik lari pagi, panas mendorong tagihan listriknya naik, dan kemacetan memaksanya untuk merenungkan bagaimana kota telah berubah.
Adinda menggambarkannya sebagai “orang Jakarta sehari-hari, sibuk, terhubung, tetapi tiba-tiba menyadari bahwa perubahan iklim bukan lagi masalah yang jauh.”
Lily adalah penjaga komunitas, seorang guru di Ternate dan orang pertama dalam keluarganya yang lulus dari universitas. Dia menghargai ketahanan tetangganya namun melihat laut yang naik dan badai yang lebih ganas mengikis cara hidup mereka. Dia bertekad untuk melindungi komunitasnya dan menginspirasi murid-muridnya.
Nadia menambahkan: “Lily menunjukkan bagaimana perubahan iklim dirasakan di komunitas yang lebih kecil, di mana sumber daya terbatas tetapi tekad kuat.”
Tiga arketipe ini menerangi perubahan iklim dengan menggambarkan bagaimana persepsinya melalui perspektif yang berbeda. Setiap karakter berfungsi sebagai cermin, memungkinkan pembaca untuk melihat diri mereka sendiri dan komunitas mereka dalam cerita mereka.
“Setiap orang dapat mengidentifikasi salah satu dari mereka,” kata Nadia, “dan menyadari bahwa mereka juga dapat bertindak.”
Bayangkan seperti memilih pemain Anda dalam permainan, tambahnya. Apa pun yang Anda pilih, Anda tetap berada dalam pertempuran.
Selamat Tinggal Kecemasan, Halo Aksi
Kecemasan iklim itu nyata, dan bahkan anak-anak merasakannya ketika mereka mendengar orang tua mereka berbicara tentang bencana alam terbaru atau melihat gambar yang mengkhawatirkan tentang mereka di media sosial.
“Kami merasa cemas ketika kami dibanjiri banyak informasi tetapi tidak tahu harus berbuat apa,” kata Nadia. “Cara terbaik untuk mengatasi ini adalah dengan menyebarkan kesadaran dan menunjukkan kepada orang-orang bahwa kekuatan ada dalam diri mereka untuk bertindak.”
Inilah mengapa “Climate Action 101” dikemas dengan langkah-langkah praktis, meyakinkan pembaca muda bahwa mereka dapat memulai dari hal-hal kecil: membawa botol minum ke sekolah, naik MRT atau TransJakarta, bermobil bersama teman. Langkah-langkah ini menuju komitmen yang lebih besar, seperti mendesak orang untuk mendaur ulang lebih banyak, bergabung dengan gerakan eko lokal, atau bahkan memperjuangkan perubahan kebijakan.
“Di jantung kecemasan iklim, kami harap buku ini dapat berfungsi sebagai ajakan bertindak,” jelas Adinda. “Ini menjelaskan apa yang dapat dilakukan orang, dari langkah-langkah kecil hingga perubahan struktural. Semua orang memiliki peran.”
Buku ini menekankan bahwa tindakan tidak harus terasa berlebihan. Ini mengakui realitas sehari-hari dan mendesak keluarga untuk mendiskusikannya dengan jujur, seperti konsep anggaran dan bagaimana pilihan ramah lingkungan dapat membantu menghemat biaya dengan menghemat bahan bakar.
Nadia menunjuk pada kekuatan konsumen, yang dapat memilih untuk mendukung produk berkelanjutan dan kendaraan listrik, atau menolak plastik sekali pakai. Dia juga menjelaskan ide “green premium,” yaitu biaya tambahan yang sering melekat pada produk berkelanjutan, dan bagaimana kebijakan yang lebih bijaksana dan berpandangan ke depan dapat membantu mengurangi kesenjangan itu.
Tindakan Iklim Dimulai dari Rumah
Bahkan percakapan di rumah dapat berkontribusi pada solusi. Sebagai seorang ibu, Nadia telah memperhatikan bagaimana keberlanjutan seringkali selaras dengan ekonomi sehari-hari: berjemur bersama menghemat bahan bakar, membawa botol air minum yang dapat digunakan kembali menghemat uang, dan menolak menggunakan kantong plastik menghindari biaya tambahan. Adinda telah melihat keterlibatan serupa dari orang tua yang membeli buku terkait iklim untuk anak-anak mereka dan menggunakannya untuk memicu percakapan di meja makan. Tindakan iklim, dengan kata lain, dimulai dengan kebiasaan keluarga.
Buku itu secara bertahap memperluas cakupan untuk menyajikan gambaran yang lebih besar tentang bagaimana lingkungan, kota, dan pemerintah bekerja untuk mencapai keberlanjutan. Bagi keluarga di Jakarta, tindakan iklim menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di antara tenggat waktu pekerjaan, tagihan, dan kemacetan lalu lintas, orang tua menemukan bahwa pilihan yang berkelanjutan tidak hanya baik untuk planet, tetapi juga dapat membuat kehidupan keluarga lebih mudah. Buku itu kemudian memperluas lensa lebih jauh lagi untuk mengatasi tantangan Indonesia, mulai dari pengembangan transportasi umum hingga menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan tanggung jawab lingkungan.
Namun, kemajuan tidak terjadi dalam semalam, dan tidak semua komunitas mampu membayar solusi teknologi tinggi. “Climate Action 101” mengarahkan pembaca ke apa yang mungkin. Menurut The Global Carbon Project, dunia memancarkan 41,6 miliar ton CO₂ pada tahun 2024.
Nadia memperingatkan bahwa “kebijakan sedang mundur ke bahan bakar fosil. Jika kita tidak bertindak, emisi akan meningkat. Itulah mengapa suara pemuda penting—untuk mendorong inisiatif hijau.”
Adinda menutup dengan pengingat bahwa perubahan paling baik dilakukan secara kolektif.
“Semoga ini menjadi milik bersama; bukan hanya individu yang bertindak sendiri, tetapi keluarga, sekolah, dan komunitas bergerak bersama.”
Orang tua dapat membuatnya menyenangkan, mengubah belanja bahan makanan menjadi tantangan ketika anak-anak mencari produk yang terbuat dari plastik lebih sedikit. Pesannya memberdayakan: Anda tidak harus lebih tua atau lebih kaya untuk membuat perbedaan.
Kisah Ketahanan Bersama
Semua benang ini—inspirasi yang diambil dari gedung pemerintahan, arketipe yang relevan, langkah-langkah praktis untuk keluarga, dan realitas ekonomi—bergabung dalam satu pesan yang jelas: Tindakan iklim adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Inti dari semuanya adalah tiga nilai penting: kesadaran, empati, dan pola pikir pemecah masalah.
Kesadaran adalah tentang menyadari pilihan kecil yang membantu melindungi planet kita, mulai dari menggunakan transportasi umum hingga menghabiskan makanan kita. Empati meminta kita untuk mengakui bahwa perubahan iklim memengaruhi orang secara berbeda dan memiliki belas kasihan untuk membela mereka yang memiliki sumber daya lebih sedikit.
Sementara itu, pola pikir pemecah masalah mendorong keluarga dan komunitas untuk mencari solusi inovatif, baik itu mengurangi limbah di rumah atau membayangkan cara baru untuk memberi daya masa depan. Bersama-sama, nilai-nilai ini mengubah tindakan iklim dari konsep yang jauh dan abstrak menjadi praktik sehari-hari yang terjalin dalam kehidupan keluarga.
Jadi, lain kali keluarga Anda berkumpul di atas nasi goreng (nasi goreng) untuk sarapan atau obrolan sebelum tidur setelah PR, biarkan tindakan iklim mengalir secara alami dalam percakapan. Anak-anak mungkin tertawa tentang apakah mereka lebih berhubungan dengan Nabil atau Lily, atau apakah mereka berbagi semangat aktivis Susi. Orang tua mungkin bercanda tentang tas belanja yang menjadi tren fashion keluarga terbaru. Yang terpenting adalah energi bersama untuk melakukan sesuatu bersama.
“Climate Action 101” mengubah perubahan iklim menjadi perjalanan bagi seluruh keluarga—perjalanan yang dimulai dari rumah dan berkembang menjadi gerakan yang lebih besar. Bertahun-tahun kemudian, percakapan ini mungkin diingat sebagai percikan yang membantu membentuk kembali kisah iklim Indonesia, dari penumpang di Jakarta dan penjaga di Ternate hingga aktivis yang dibentuk oleh laut.