Administrasi Yoon Suk-yeol terus memperluas kuota tarif rendah (TRQ) untuk menurunkan harga produk pertanian, meningkatkan impor beras, bawang putih, dan bawang bombay. Ini telah melemahkan dasar pertanian domestik dan terbukti tidak efektif dalam menstabilkan harga pertanian. Beras impor terutama digunakan untuk pemrosesan oleh perusahaan pangan besar, yang menyebabkan penurunan produksi beras domestik. Meskipun tingkat kemandirian beras Korea Selatan di bawah 100%, pemerintah terus meningkatkan impor beras, yang dapat mengakibatkan pengurangan pendapatan petani dan ancaman terhadap ketahanan pangan. Sementara Jepang menggunakan 70% beras impor sebagai pakan ternak, Korea Selatan hanya menggunakan sekitar 3%. Administrasi Yoon mengejar kebijakan untuk mengurangi area penanaman beras dan menurunkan produksi beras tanpa mempersiapkan diri untuk perubahan iklim. Ini dapat mengancam ketahanan pangan jangka panjang dan memperburuk kesulitan ekonomi petani. Sebagai kesimpulan, kebijakan pertanian administrasi Yoon melemahkan dasar pertanian domestik dan mengancam ketahanan pangan. Daripada mengurangi produksi beras, diperlukan dukungan petani dan langkah-langkah pengembangan pertanian berkelanjutan.