Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga menembus Rp 18.000 disebabkan oleh kekhawatiran inflasi global, risiko fiskal, dan kenaikan harga minyak. Kenaikan yield obligasi Amerika Serikat juga mendorong arus keluar dana dari portofolio aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Meskipun melemah, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang regional lainnya. Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valas dan pengelolaan suku bunga. BI juga akan terus berkoordinasi dengan pelaku pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan lancar.