Data kemiskinan di Indonesia versi Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia berbeda karena menggunakan metode perhitungan yang berbeda. BPS menghitung kemiskinan berdasarkan biaya hidup di Indonesia, sementara Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan internasional untuk membandingkan standar hidup antar negara. Garis kemiskinan BPS disesuaikan dengan kondisi dan pola konsumsi masyarakat Indonesia, sedangkan garis kemiskinan Bank Dunia bersifat global dan didasarkan pada standar hidup negara-negara dengan pendapatan serupa. Perbedaan ini menyebabkan angka kemiskinan versi Bank Dunia lebih tinggi daripada versi BPS. Meskipun demikian, kedua data tersebut tetap relevan karena menjawab pertanyaan yang berbeda dan memberikan perspektif yang saling melengkapi mengenai upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia.