Benteng Martello, masih berdiri dengan gagah setelah berabad-abad, menyambut hangat pengunjung yang tiba di Pulau Kelor. Foto oleh Des Syafrizal.
Di luar pantai pasir putihnya, terumbu karang, dan resor tepi laut yang tenang, Kepulauan Seribu (Kepulauan Seribu) menawarkan pengalaman island hopping yang menarik yang sarat dengan warisan dan sejarah. Sejak abad ke-17 awal, mereka telah berfungsi sebagai zona penyangga dan pos terdepan untuk Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dan kemudian administrasi kolonial Belanda. Hari ini, sisa-sisa sejarah tersebar di seluruh pulau, memberikan pengunjung sekilas tentang masa lalu maritim Indonesia dan keindahan alam pulau lepas pantai Jakarta.
Kabupaten Kepulauan Seribu terletak di perairan Teluk Jakarta, dibatasi oleh dua tanjung: Tanjung Pasir di sebelah barat dan Tanjung Karawang di sebelah timur. Di ujung selatan kepulauan terdapat 10 pulau kecil, termasuk Rambut, Untung Jawa, Onrust, Kelor, Cipir, dan Bidadari. Dari era VOC hingga periode kolonial Belanda, pulau-pulau ini memainkan peran strategis dalam melindungi Batavia (Jakarta), sebagai benteng pertahanan, fasilitas karantina, gudang, dan pusat pengiriman.
Hari ini, banyak pulau telah diubah menjadi tujuan wisata. Ayer dan Bidadari telah menjadi tempat peristirahatan resor populer, sementara Untung Jawa tetap menjadi satu-satunya pulau yang dihuni secara permanen di gugusan selatan.
Seorang nelayan berlayar melintasi Teluk Jakarta, melewati rantai pulau bersejarah di sepanjang jalan. Foto oleh Des Syafrizal.
NOW! Jakarta bergabung dengan tim dari Unit Pengelola Museum Maritim Jakarta dalam kunjungan ke Kepulauan Seribu sebagai persiapan untuk peringatan 500 tahun Jakarta tahun depan. Perayaan akan berfokus pada pelestarian dan promosi warisan maritim kota, serta penciptaan program yang relevan. Berangkat dari Dermaga Kamal Muara di Jakarta Utara, kami menaiki kapal Museum Bahari ditemani oleh Mis’Ari, Kepala Unit Pengelola Museum Maritim. Kami menyeberangi Teluk Jakarta, menelusuri jejak sejarah berabad-abad saat kami menuju Kelor, Cipir, dan Pulau Onrust.
Pulau-pulau bersejarah ini adalah salah satu situs warisan yang dikelola oleh Unit Pengelola Museum Maritim, bersama dengan Museum Bahari, Menara Syahbandar, Jembatan Kota Intan, Rumah Si Pitung, dan Situs Sejarah Marunda.
Kami melewati pemukiman nelayan Kamal Muara dan Dadap, di mana kapal-kapal berwarna-warni berjajar di sepanjang dermaga. Dua puluh menit kemudian, kami tiba di tujuan pertama kami: Pulau Kelor.
(Di atas) Di dalam Benteng Martello, pengunjung dapat melihat benteng bersejarah yang masih kokoh berdiri meskipun termakan waktu; (Di bawah-Kiri) Sinar matahari menerangi benteng Martello yang terletak sekitar 9 meter di atas permukaan laut; (Di bawah-Kanan) Tangga di dalam benteng Martello berbentuk spiral bata, dirancang untuk menghubungkan lantai dasar ke platform atap. Pada masa militernya, atap berfungsi sebagai tempat meriam, memungkinkan para pembela memantau dan melindungi perairan sekitarnya. Foto oleh Des Syafrizal.
Pulau Kelor relatif kecil dan, karena erosi pantai selama berabad-abad, sekarang hanya mencakup 1,5 hektar. Pulau ini dikenal sebagai Kerkhof Eiland selama era kolonial Belanda, yang berarti “pulau kuburan”. Meskipun demikian, tidak ada bukti makam atau situs pemakaman yang pernah ditemukan di sana.
Pulau ini langsung dikenali dengan benteng Martello yang khas. Meskipun para sejarawan terus berdebat apakah itu terinspirasi secara langsung dari benteng Martello asli yang dikembangkan di sepanjang pantai Corsica, Prancis, struktur pertahanan serupa dapat ditemukan di tempat lain di Indonesia. Menara serupa juga dibangun di Pulau Onrust, Cipir, dan Bidadari, serta di Karang Trigoson dan Karang Mathilda, keduanya telah hilang ditelan laut. Mereka merupakan bagian dari jaringan pertahanan maritim yang lebih luas yang didirikan pada abad ke-19
Dibangun pada tahun 1850, benteng di Pulau Kelor adalah struktur berbentuk lingkaran dan silinder yang dibangun terutama dari bata merah. Berdiameter sekitar 14 meter, dindingnya setebal 2,6 m. Meskipun penampilannya yang tangguh, menara tersebut hanya berfungsi untuk tujuan defensif aslinya selama kurang dari 20 tahun. Pada tahun 1871, telah diubah menjadi gudang amunisi untuk armada Hindia Belanda.
Kepentingan militernya secara bertahap menurun, dan pada awal abad ke-20, sebagian besar telah terbengkalai. Sebuah artikel koran berjudul “Verlaten Eilanden” (Pulau Terbengkalai), yang diterbitkan pada tahun 1905, menggambarkan benteng tersebut sebagai terabaikan dan rusak. Sebagian besar kerusakan diperkirakan disebabkan oleh letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883, yang memicu tsunami dan gelombang kejut yang menghancurkan garis pantai di seluruh wilayah.
Setiap kapal yang memasuki teluk dari utara akan pertama kali menemui Kelor, menjadikannya sebagai garis pertahanan terdepan yang krusial.
Sebuah perahu mendekati dermaga, bersiap untuk sandar di Pulau Cipir. Foto oleh Des Syafrizal.
Dari Kelor, kami melanjutkan ke Pulau Cipir, yang juga dikenal sebagai Pulau Kahyangan (Belanda: Kuiper Eiland), yang muncul pada peta abad ke-18 dan ke-19 sebagai permukiman Eropa dan memainkan peran penting dalam operasi VOC.
Selama masa kejayaan perusahaan, Cipir berfungsi sebagai pusat penyimpanan dan logistik. Salah satu catatan paling jelas dari periode ini muncul dalam lukisan tahun 1769 oleh Johannes Rach, menggambarkan kapal dagang VOC Vreedenlust sedang diperbaiki. Adegan tersebut menggambarkan buruh budak menarik kapal tegak di bawah pengawasan seorang mandor yang membawa cambuk—pengingat pahit tentang biaya manusia di balik perdagangan kolonial.
Antara tahun 1850 dan 1853, benteng Martello dibangun di pulau tersebut. Namun, peran militernya terbukti singkat, dan struktur tersebut kemudian diubah menjadi gudang. Menjelang akhir abad ke-19, sebagian besar benteng dibongkar untuk memberi jalan bagi fasilitas yang melayani tujuan yang sama sekali berbeda: karantina.
(Kiri) Bangunan fasilitas karantina di Pulau Cipir; (Kanan) Sebuah meriam berdiri di antara reruntuhan rumah sakit dan pusat isolasi yang dulu ada di Pulau Cipir. Foto oleh Des Syafrizal.
Bersama dengan Pulau Onrust yang berdekatan, Cipir menjadi stasiun kesehatan masyarakat yang penting. Pembangunan fasilitas karantina dimulai pada tahun 1911, dan pada tahun berikutnya, mereka beroperasi. Pulau tersebut menampung para pelancong yang terkena penyakit menular dan kemudian erat kaitannya dengan perjalanan haji.
Seiring dengan meningkatnya fasilitas kesehatan di daratan, pentingnya pulau itu secara bertahap berkurang. Pada tahun 1958, kompleks karantina telah ditinggalkan dan akhirnya ditinggalkan. Banyak bangunan rumah sakit yang dulu dibongkar, dengan penduduk menyelamatkan batu bata dan kayu untuk digunakan di permukiman terdekat.
Tujuan akhir kami adalah Pulau Onrust, secara historis pulau tersibuk dan terpenting di Teluk Jakarta. Namanya berasal dari kata Belanda onrust, yang berarti “gelisah” atau “aktivitas tanpa henti”, mencerminkan peran lamanya sebagai pusat perdagangan maritim dan operasi angkatan laut.
Terletak secara strategis tepat di utara Batavia, Onrust menjadi salah satu pangkalan pulau terpenting VOC. Pergerakan kapal, barang, dan pekerja yang konstan mengubahnya menjadi pusat sibuk yang mendukung kapal yang melakukan perjalanan ke seluruh Asia dan Eropa.
Dalam bukunya Onrust dan Sekitarnya: Gugusan Pulau Bersejarah di Teluk Jakarta (Onrust and Surroundings: A Historic Island Cluster in Jakarta Bay), arkeolog Candrian Attahiyyat menjelaskan bahwa asal mula pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia dapat ditelusuri langsung ke Pulau Onrust. Lokasinya yang strategis menjadikannya pangkalan ideal bagi VOC untuk membangun kendali atas Jayakarta (sebelum kota itu disebut Batavia).
(Di atas) Replika kincir angin menyambut pengunjung saat mereka tiba di dermaga di Pulau Onrust; (Di bawah-Kiri) Pemakaman Belanda di Pulau Onrust, di mana batu nisan yang lapuk menjadi saksi kehidupan dan kematian penduduk zaman kolonial, banyak di antaranya meninggal karena penyakit tropis jauh dari rumah; (Di bawah-Kanan) Suasana di dalam Museum Arkeologi Onrust menawarkan sekilas ke masa lalu pulau yang kaya, dengan artefak sejarah, temuan arkeologis, dan pameran yang melacak perannya sebagai pusat maritim strategis selama berabad-abad. Foto oleh Des Syafrizal).
Mulai pertengahan abad ke-17, gudang, rumah staf, dan fasilitas galangan kapal dibangun di pulau tersebut. Benteng menyusul pada tahun 1656 dan secara berulang kali diperluas sebagai tanggapan atas serangan dari kekuatan saingan. Pada abad ke-18, Onrust memiliki infrastruktur militer dan sipil yang luas, termasuk rumah sakit, gereja, bangunan perumahan, dan kincir angin.
Konflik Eropa akhirnya mencapai perairan Teluk Jakarta. Pasukan Inggris menyerang dan membakar sebagian pulau selama akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 sebelum menduduki wilayah tersebut hingga tahun 1816. Setelah pemulihan kendali Belanda, Onrust melanjutkan fungsinya sebagai pusat maritim. Pada tahun 1911, itu ditetapkan sebagai stasiun karantina untuk peziarah Haji dan pasien yang menderita penyakit menular.
Relik dari fasilitas lama masih terlihat jelas hingga saat ini. Di puncaknya, pulau tersebut menampung 35 barak, masing-masing mampu menampung hingga 100 peziarah Haji. Pada tahun 1933, operasi karantina Haji dipindahkan ke Pelabuhan Tanjung Priok.
Pemakaman Belanda masih ada di pulau tersebut. Dari sekitar 52 kuburan di sana, sebagian besar milik pemukim dan pejabat Belanda yang meninggal di usia muda, sering kali akibat penyakit tropis. Para sejarawan percaya bahwa Onrust jauh dari tempat yang sehat untuk ditinggali, dengan penyakit yang selalu menjadi ancaman.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang pulau dan situs warisan sekitarnya, pengunjung dapat menjelajahi Museum Arkeologi Onrust, yang terletak di bekas kediaman dokter di seberang reruntuhan barak dan rumah sakit lama. Museum ini menawarkan wawasan tentang sejarah pulau melalui pajangan informatif, model skala Pulau Onrust, dan pameran interaktif yang menghidupkan masa lalu kolonial dan maritimnya.
Koleksi museum mencakup 394 artefak arkeologi yang dipulihkan dari Onrust dan pulau-pulau tetangga. Di antara yang paling menonjol adalah pecahan keramik dan gerabah yang berasal dari Dinasti Qing abad ke-19 di Cina, memberikan bukti jaringan perdagangan maritim dan pertukaran budaya yang pernah menghubungkan Batavia dengan wilayah Asia yang lebih luas.
Cara Menuju Ke Sana:
Selain Kamal Muara, banyak wisatawan berangkat dari Dermaga Muara Angke, yang dikenal dengan layanan perahu umum yang terjangkau, sementara Marina Ancol menawarkan berbagai macam feri wisata dan sewa pribadi.
Sewa Perahu Tradisional/Sewa Speedboat: Sekitar IDR 350.000 hingga IDR 1.000.000 per perahu (tergantung dermaga asal seperti Marina Ancol atau Muara Kamal dan jenis perahu).
Perahu Wisata Pemerintah Daerah (Kapal Wisata Pemda): Tiket berharga IDR 49.000 per orang untuk rute pulang pergi (melintasi Muara Angke-Cipir-Onrust-Kelor).
Banyak operator wisata menawarkan paket perjalanan terbuka dengan harga yang lebih terjangkau. Paket Perjalanan Terbuka yang mencakup tiga pulau berkisar antara IDR 120.000 hingga IDR 175.000 per orang, dan termasuk perjalanan feri, tiket masuk, dan pemandu.