Emas Merah: Membaca Kembali Sejarah Maritim Melalui Seni di Museum Kebudayaan Jakarta

123.1.***.***
11

Sebuah pameran di Museum Kebaharian Jakarta (Museum Maritim Jakarta) mengajak pengunjung untuk menghadapi masa lalu yang berlapis, tidak nyaman, dan sangat relevan. Crimson Gilt, instalasi berbasis lokasi oleh seniman asal Amsterdam Vincent Ruijters, berlangsung dari 7 Februari hingga 7 April 2026, menawarkan pembacaan ulang sejarah maritim dan kolonial melalui seni, ruang, dan ingatan kolektif.

Ruijters, dikenal karena instalasinya yang puitis, konseptual, dan berteknologi tinggi, menempatkan proyek ini di tiga negara yang dulunya terhubung melalui jaringan perdagangan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang luas: Jepang, Indonesia, dan Belanda. Setiap bab pameran dipentaskan di situs bersejarah yang bermuatan, bekas pos perdagangan VOC di Hirado, Museum Kebaharian Jakarta, dan Museum Maritim Nasional di Amsterdam. Dalam Crimson Gilt, ruang bukan hanya tempat penyelenggaraan tetapi elemen naratif aktif, melestarikan dan mengaktifkan ingatan kolonial.

Di pusat proyek ini adalah kapal tekstil yang mengapung ilusi, replika dari Amsterdam, kapal VOC yang dibangun pada tahun 1748 dan terkenal tenggelam dalam pelayaran perdananya ke Batavia. Kapal itu membawa warisan yang bertentangan. Dirayakan dalam narasi Belanda dan Jepang sebagai simbol ketangguhan maritim namun dikutuk di Indonesia sebagai lambang eksploitasi dan awal dari tiga setengah abad dominasi kolonial.

Ruijters mengartikulasikan ketegangan ini melalui warna. Di Jakarta, kapal tampak merah di bagian depan dan emas di dalam, metafora visual yang mencolok untuk penderitaan yang terlihat dan kekayaan yang diekstraksi. Di Hirado, Jepang, instalasi berperilaku berbeda. Dilihat dari depan, ia bersinar dengan emas logam. Saat pengunjung berjalan melaluinya, emas secara bertahap berubah menjadi merah darah yang suram. Pergeseran persepsi mencerminkan pergeseran historis: Jepang tidak pernah mengalami VOC sebagai kekuatan kolonial, sementara Indonesia menanggung kekuatan penuhnya.

Kontras ini merupakan inti dari kerangka kuratorial Crimson Gilt. Pameran ini tidak hanya menceritakan sejarah, tetapi juga menanyakan bagaimana sejarah diingat secara berbeda di berbagai negara yang terhubung oleh rute maritim yang sama.

Bagi Indonesia, kapal dulu melambangkan koneksi. Mereka menghubungkan kerajaan, memfasilitasi pertukaran ide, dan membentuk dasar jaringan budaya dan ekonomi di seluruh pulau. Kedatangan VOC secara fundamental mengubah simbolisme ini. Kapal menjadi alat monopoli, kontrol, dan ekspansi imperial. Rute laut direbut, perdagangan rempah-rempah diatur, dan perjanjian perdagangan ditegakkan dengan paksaan. Seiring waktu, tempat simbolis kapal dalam identitas Indonesia terkikis.

Seperti yang dicatat dalam teks kuratorial: “Kedatangan VOC, yang membuka pintu bagi kolonialisme di Indonesia, memiliki dampak sosial dan politik jangka panjang yang masih relevan hingga saat ini. Praktik-praktik ini kemudian mewariskan stereotip etnis, stratifikasi sosial, politik identitas, dan kecenderungan otoriter yang menjadi akar dari berbagai konflik domestik.”

VOC memperkenalkan klasifikasi ras yang kaku yang menempatkan orang Eropa sebagai penguasa, “Orang Timur” —Tionghoa, Arab, dan India— sebagai perantara ekonomi, dan penduduk asli sebagai buruh dan subjek kolonial. Ia juga menanamkan struktur politik terpusat yang membagi untuk menguasai, yang gema-gema nya masih dapat ditelusuri dalam dinamika sosial dan politik kontemporer.

Crimson Gilt menggunakan kapal sebagai alat historiografi. Ia mengaktifkan memori spasial dan mendorong dialog trilateral antara negara-negara di dalam jaringan maritim VOC, menyelaraskan persepsi dan membuka ruang untuk refleksi, dan mungkin penyembuhan. Pameran ini menunjukkan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai pengalaman estetika tetapi juga sebagai situs produksi pengetahuan dan negosiasi ingatan kolektif.

Penjadwalan proyek ini juga sangat penting. Presentasi di Hirado pada tahun 2025 menjadi bagian dari peringatan 400 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Belanda, sebuah hubungan yang dimulai di situs tersebut pada tahun 1609. Pameran Jakarta bertepatan dengan mendekati perayaan ulang tahun ke-500 kota (1527–2027), mendorong refleksi publik dan institusional kembali tentang masa kolonialnya. Kedua lembaga secara sengaja menempatkan Crimson Gilt dalam kerangka diplomatik dan historis yang lebih luas, menekankan relevansi berkelanjutan dari pertukaran budaya dalam mengatasi narasi sejarah.

Dalam penceritaan ulang puitis Ruijters, Amsterdam tidak pernah tenggelam. Sebagai gantinya, ia menyelesaikan perjalanannya, dari Amsterdam ke Hirado, ke Jakarta, dan kembali lagi, membawa serta semangat VOC yang belum terselesaikan. Perjalanan menjadi simbolis daripada historis, menyimpulkan bab kolonial yang panjang bukan melalui penghapusan, tetapi melalui konfrontasi dan pemahaman.

Dalam Crimson Gilt, kapal tidak hanya kembali ke pelabuhan. Ia kembali ke ingatan.

Museum Kebaharian Jakarta
Jl. Pasar Ikan No. 1, Penjaringan, Jakarta Utara
@museumkebaharianjkt

Periode Pameran:
7 Februari hingga 7 April 2026
Dari pukul 9 pagi hingga 3 sore (Hari Kerja), pukul 9 pagi hingga 8 malam (Akhir Pekan)
Senin tutup.

로그인한 회원만 댓글 등록이 가능합니다.

정보공유

KR | ID | EN
  • IDR
  • KOR
8.35 -0.01

2026.07.10 KEB 하나은행 고시회차 1102회

다가오는 한인 행사일정

  • 등록 된 일정이 없어요!