Dibangun pada tahun 1899, stasiun kereta api Kebayoran memainkan peran penting dalam perkembangan wilayah Kebayoran. Foto oleh Des Syafrizal.
Selama zaman Hindia Belanda, Kebayoran adalah wilayah yang luas dengan sejarah panjang dan terus berkembang. Saat ini, Kebayoran telah berkembang menjadi dua wilayah yang berbeda: Kebayoran Lama dan Kebayoran Baru. Meskipun secara geografis dekat, masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri. Kebayoran Lama mempertahankan suasana tradisional dan lokal yang kuat, sementara Kebayoran Baru mencerminkan kehidupan modern dan perkembangan perkotaan yang dinamis. Bersama-sama, mereka membentuk identitas Jakarta Selatan yang beragam, menawarkan destinasi yang kaya akan warisan, budaya, dan pengalaman gaya hidup yang beragam.
Kebayoran awalnya adalah sebuah desa yang dikenal sebagai Kampong Kebajoran, terletak di tepi Sungai Grogol dan Pesanggrahan. Jauh dari terpencil, desa ini terletak secara strategis di sepanjang jalan utama dan jalur perdagangan yang menghubungkan Buitenzorg (Bogor) dan Tanah Abang, tepat di selatan Batavia. Pada saat itu, Kebayoran juga berada di bawah Afdeeling Meester Cornelis, bersama dengan Meester Cornelis (sekarang Jatinegara), Bekasi, dan Cikarang. Afdeeling setara dengan kabupaten.
Pada tahun 1854, Residentie Batavia (sekarang Jakarta) hanya memiliki dua afdeelings: Batavia dan Meester Cornelis. Kemudian pada tahun 1890-an, ada lima afdeelings: Batavia, Meester Cornelis, Buitenzorg, Karawang, dan Tangerang. Sebagai salah satu permukiman dalam struktur ini, Kebayoran memainkan peran kecil namun bermakna dalam lanskap administratif dan ekonomi Hindia Belanda.
Stasiun Kereta Api Kebayoran. Foto oleh Des Syafrizal.
Pasar Kebayoran Lama. Foto oleh Des Syafrizal.
Ada dua interpretasi historis mengenai asal usul nama Kebayoran. Yang pertama, yang paling populer, mengikuti pola umum di Jakarta, di mana nama tempat sering berasal dari tanaman atau pohon lokal. Dalam versi ini, Kebayoran berasal dari bayur, jenis tumbuhan monokotil yang menyerupai pohon palem, sering dikaitkan dengan pohon kelapa. Interpretasi kedua menghubungkan nama tersebut dengan kata Belanda baljuw (balyuw), yang berarti kepala pengadilan, pengadilan, atau bea cukai (penarik pajak). Versi ini terkait dengan masa lalu Kebayoran sebagai distrik penting dalam Afdeeling Meester Cornelis.
Nama Kebayoran tidak muncul secara eksplisit pada peta abad ke-18. Bahkan pada peta tahun 1840-an, nama tersebut masih hilang, sementara daerah sekitar seperti Pengumben, Pondok Betung, dan Ulujami sudah terdokumentasi. Baru pada tahun 1953 Kebayoran mulai muncul di peta, dan pada tahun 1883, telah menjadi area yang signifikan dan terdokumentasi dengan baik, dengan seorang kontroler Belanda ditunjuk sebagai wakil Asisten Residen Meester Cornelis.
Pentingnya daerah ini meningkat dengan kedatangan kereta api. Sebuah stasiun dibangun pada tahun 1899 sebagai bagian dari jalur Tanah Abang–Rangkasbitung (Banten) yang dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS). Perkembangan ini memperkuat posisi Kebayoran, dan pada tahun 1905 statusnya dinaikkan menjadi tingkat distrik. Stasiun tersebut, terletak di Kebayoran Lama, ibu kota Distrik Kebayoran, awalnya bernama Stasiun Kebayoran Lama sebelum diganti nama menjadi Stasiun Kebayoran pada tahun 2016.
Toko tekstil mengelilingi Pasar Mayestik, tujuan terkenal bagi warga Jakarta dan pengunjung yang mencari berbagai macam kain. Foto oleh Des Syafrizal.
Kios makanan di dalam Pasar Mayestik. Foto oleh Des Syafrizal.
Biskuit Khong Guan di Khong Guan Mart. Foto oleh Des Syafrizal.
Setelah status Kebayoran dinaikkan menjadi sebuah kecamatan, infrastruktur ekonomi penting, terutama pasar, dikembangkan di sekitar pusat kecamatan. Lokasi Pasar Kebayoran saat ini terletak di sebelah barat stasiun. Sayangnya, struktur bersejarah ini dibongkar dan diganti dengan bangunan baru pada tahun 1987. Saat ini, meskipun pasar dalam kondisi rusak, pasar tetap ramai dan terus menopang ekonomi lokal yang dinamis.
Selama perkembangan awal Kebayoran, Pasar Mayestik juga didirikan. Menariknya, situs tersebut awalnya berfungsi sebagai bioskop. Pada tahun 1981, bioskop dibongkar, dan pada tahun 2010 area tersebut dibangun kembali menjadi pasar modern empat lantai. Pasar Mayestik memiliki tata letak yang unik, dengan deretan toko-toko dibangun mengelilingi struktur bioskop lama. Saat ini, meskipun masih menawarkan makanan dan pakaian, pasar terutama dikenal sebagai tujuan populer untuk tekstil, bahan jahit, dan berbagai pilihan kuliner. Di satu sisi gerbang masuknya berdiri Khong Guan Mart, mewakili merek biskuit Indonesia yang ikonik. Sebelumnya, depot biskuit ini hanya ada di Pasar Mayestik dan Menteng.
Bangunan warisan budaya di Radio Dalam dulunya berfungsi sebagai pemancar Radio Republik Indonesia II, sebuah landmark bersejarah Kebayoran Lama. Foto oleh Des Syafrizal.
Landmark sejarah lainnya di Kebayoran Lama adalah bangunan Pemancar Radio Republik Indonesia (RRI) II yang terletak di Radio Dalam. Pemerintah Belanda membangun pemancar ini karena posisi yang tinggi dan tersembunyi, serta kemudahan administrasi. Ini berfungsi sebagai pelengkap pemancar yang ada di kaki Gunung Malabar di Bandung. Faktanya, gelombang radio yang diterima di Radio Dalam bahkan lebih kuat daripada yang ditangkap di Malabar. Pada tanggal 22 Desember 2019, menara pemancar RRI di Radio Dalam runtuh akibat angin kencang. Daripada membangun kembali di lokasi asli, menara dipindahkan ke Cimanggis, Jawa Barat.
Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintahan kolonial Belanda masih berusaha untuk mendapatkan kembali kendali dan merencanakan beberapa permukiman baru sebagai bagian dari perluasan perkotaan pascaperang Jakarta. Pada saat itu, ibu kota menjadi semakin padat, terutama pada tahun 1940-an. Rencana awal, yang disusun pada tahun 1946, mengusulkan kawasan perumahan di Gandaria untuk karyawan Batavia Petroleum Maatschappij (BPM).
Ketika diskusi tentang pendirian permukiman baru di Jakarta berkembang, pemerintah kota membentuk Centrale Stichting Wederopbouw (CSW). Pada tahun 1948, batu pertama untuk distrik perumahan baru di Kebayoran Baru diletakkan. Pengembangannya sejalan dengan konsep kota satelit yang sedang muncul, sebuah wilayah perkotaan mandiri yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap dan perumahan yang layak, dirancang sebagai penyangga Jakarta pusat.
Salah satu contoh yang tersisa dari arsitektur gaya Jengki di Jalan Pakubuwono VI. Foto oleh Des Syafrizal.
Gaya rumah jengki yang digunakan untuk tujuan komersial, masih mempertahankan arsitektur ikonik (kiri); Kawasan Jalan Pakubuwono di Kebayoran Baru telah berkembang menjadi distrik komersial kelas atas yang dipenuhi apartemen mewah dan properti premium (kanan). Foto oleh Des Syafrizal.
Pembangunan lanskap Kebayoran Baru diselesaikan pada tahun 1955 dan kemudian diperluas dengan perumahan skala kecil yang ditujukan untuk pegawai negeri sipil. CSW dipimpin oleh Mohammad Soesilo, mantan mahasiswa arsitek dan perencana kota berpengaruh, Thomas Karsten. Soesilo merancang tata letak arsitektur dan lanskap daerah tersebut, mengambil inspirasi dari distrik elit Menteng. Namun, arsitektur bangunan mengadopsi gaya pasca-kemerdekaan yang baru dan berbeda yang dikenal sebagai arsitektur jengki.
Jengki, gaya arsitektur Indonesia modern, muncul sebagai perkembangan dari art deco yang dipadukan dengan prinsip-prinsip arsitektur lokal, terutama yang sesuai dengan iklim tropis. Gaya ini mudah dikenali melalui ciri-ciri fasad yang khas, seperti atap asimetris dengan lereng curam yang dirancang untuk meningkatkan aliran air hujan, serta bentuk dinding pentagonal miring ke atas yang membantu memblokir sinar matahari langsung.
Munculnya gaya Jengki juga didorong oleh motivasi politik. Pada periode awal pasca kemerdekaan, desain arsitektur didorong untuk melepaskan diri dari estetika kolonial. Contoh rumah bergaya Jengki di Kebayoran Baru masih dapat dilihat di kompleks perumahan BPM yang dulu ada di Jalan Pakubuwono VI.
Kawasan permukiman baru Kebayoran Baru awalnya mencakup sekitar 730 hektar, sebelum kemudian diperluas menjadi 1.291 hektar. Rencana induk Soesilo mengadopsi konsep kota taman, menekankan ruang terbuka hijau dan perencanaan yang berpusat pada manusia untuk mendukung keberlanjutan dan menciptakan lingkungan perkotaan yang ramah lingkungan dan layak huni.
Soesilo juga membayangkan Kebayoran Baru sebagai komunitas yang beragam secara sosial dan heterogen, menawarkan berbagai jenis perumahan yang tertata rapi. Distrik ini dibagi secara sistematis menjadi blok (‘blok’) berdasarkan fungsi bangunan, dengan setiap blok diberi label alfabet, dari Blok A hingga Blok S, dan dipisahkan oleh jalan dan ruang hijau yang luas.
Pada tahap awal pengembangan, Blok E (Taman Pakubuwono) adalah yang pertama dibangun. Saat ini merupakan kawasan komersial kelas atas, Blok E kemudian diperluas ke arah timur dan selatan sejalan dengan pola transportasi umum modern di Jakarta. Beberapa blok ditunjuk sebagai lingkungan perumahan, taman, pusat ekonomi seperti toko dan pasar, serta kantor.
Salah satu dari banyak restoran Jepang di Melawai yang memberikan wilayah tersebut pesona “Little Tokyo” (di atas); Restoran Kira Kira Ginza, salah satu tempat makan Jepang tertua yang dibuka di lingkungan tersebut (kiri); M Bloc Space, tempat yang harus Anda kunjungi untuk merasakan suasana kreatif dan dinamis di tengah Jakarta. Foto oleh Des Syafrizal.
Saat ini, banyak dari 19 blok asli telah digabung menjadi kecamatan administratif modern. Misalnya, Blok B, C, dan D sekarang membentuk kecamatan Kramat Pela, sedangkan Blok M dan N telah menjadi kecamatan Melawai.
Terletak di sekitar Melawai, Blok M tetap menjadi salah satu area paling ramai di Kebayoran Baru. Blok M Shopping Center, yang pembangunannya dimulai pada tahun 1974 dan selesai pada tahun 1977, menjadi katalisator pertumbuhan wilayah tersebut. Ini kemudian diikuti dengan pengembangan Blok M Square dan Pasaraya Blok M, keduanya terintegrasi dengan terminal transportasi Blok M. Akibatnya, orang tidak lagi hanya bergantung pada Pasar Baru, Pasar Senen, atau Glodok saat mencari barang.
Sebuah deretan toko yang rapi segera berkembang di sekitar Melawai, diperkaya dengan munculnya enklave Jepang yang khas yang membuat daerah tersebut terasa seperti "Little Tokyo" kecil. Di pertengahan tahun 1985, restoran Kira Kira Ginza adalah salah satu tempat makan Jepang tertua yang dibuka di lingkungan tersebut. Kehadirannya memicu pertumbuhan restoran bergaya Jepang lainnya, dan pada awal tahun 1990-an Melawai semakin menunjukkan karakter yang terinspirasi Jepang.
Persimpangan CSW–ASEAN menghubungkan MRT Jakarta dengan TransJakarta, menunjukkan identitas transportasi kota yang berkembang. Terletak di persimpangan Jalan Panglima Polim, Kyai Maja, Trunojoyo, dan Sisingamangaraja di Kebayoran Baru. Foto oleh Des Syafrizal.
Blok M juga sudah lama menjadi tempat nongkrong favorit, bagi anak muda dan pengunjung dari segala usia. Di luar kedatangan terus menerus toko, restoran, dan kafe yang bersaing untuk menawarkan pengalaman terbaru, Blok M juga telah mengalami perbaikan besar melalui integrasi transportasi umum modern. Dengan TransJakarta, MRT, Mikrotrans, dan moda lainnya sekarang terhubung dengan mulus, warga dapat mengakses berbagai fasilitas kota lebih mudah daripada sebelumnya.
Dalam pembangunan perkotaan Jakarta, banyak aktivitas yang terkonsentrasi di Kebayoran Baru, tidak hanya sebagai pusat perbelanjaan, layanan, dan kantor, tetapi juga sebagai tujuan yang mengundang pengunjung untuk menjelajahi setiap sudutnya. Ketika berbicara tentang gaya hidup dan kuliner, Kebayoran Baru juga menawarkan restoran kelas atas yang tersebar di Gandaria, Pakubuwono, Senopati, Gunawarman, dan Panglima Polim.
Perbaikan signifikan dalam infrastruktur dan fasilitas umum telah membuat Kebayoran Baru, yang sudah berada di lokasi strategis, semakin menarik, membuka potensi lebih besar untuk pengembangan di masa depan. Dulu dirancang sebagai kota satelit, Kebayoran Baru kini telah menjadi bagian integral dari inti perkotaan Jakarta, didukung oleh akses yang lebih baik, fasilitas yang ditingkatkan, dan lingkungan ekologi yang lebih hijau.
Terletak dekat Pasar Taman Puring, taman ini berfungsi sebagai ruang komunitas untuk rekreasi dan relaksasi sambil memperkuat konsep kota taman Kebayoran Baru. Foto oleh Des Syafrizal.
Yang membedakan Kebayoran Baru adalah relevansinya yang abadi sebagai model untuk pengembangan perkotaan yang direncanakan di Indonesia, terutama melalui konsep kota tamannya. Taman seperti Taman Puring, Taman Langsat, Taman Barito, Taman Ayodya, dan Taman Leuser berdiri sebagai warisan penting dari visi awal ini.
Pada tahap selanjutnya perencanaan kota di wilayah ini, tiga taman ikoniknya, yaitu Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Leuser, akan digabungkan menjadi satu ruang hijau yang dikenal sebagai Taman Bendera Pusaka di kawasan Barito. Dijadwalkan selesai pada tahun 2026, Taman Bendera Pusaka akan dilengkapi dengan jembatan penghubung untuk meningkatkan sirkulasi dan memaksimalkan fungsi seluruh kompleks taman. Ruang yang ditingkatkan ini akan mencakup taman bermain anak-anak, amfiteater, lapangan padel, dan lintasan jogging sepanjang 1,2 kilometer bagi warga Jakarta dan wisatawan untuk dinikmati.
Ucapan Terima Kasih
Dengan rasa terima kasih yang besar kepada sumber pribadi, Achmad Sofian dan Reyhan Biadilla dari Ngopi Jakarta, penutur cerita kota yang terkemuka.