Perhimpunan Harmonie: Sebelum Parkir Mobil, Ada Sekaligus Champagne

110.55.***.***
3

Suatu hari ketika menjelajahi Jakarta, Anda mungkin akan menemukan kemacetan Harmoni yang tak henti-hentinya, dan melihat pegawai negeri sipil yang terburu-buru masuk keluar dari area Kementerian Sekretariat Negara yang sederhana. Apa yang sekarang merupakan zona pemerintahan, dulunya adalah pusat masyarakat elit Batavia, tempat pesta paling mewah dan pertemuan klub eksklusif di Hindia Belanda diadakan.

Dibuka secara resmi pada tanggal 18 Januari 1815, Societeit de Harmonie atau Harmonie Society, adalah alamat paling eksklusif di Batavia. Gedung yang dikenal sebagai Klub Harmonie, menyelenggarakan fungsi sosial, budaya, dan diplomatik Masyarakat, menjadikannya institusi pusat eksklusif bagi kehidupan elit Eropa. Terletak di sudut Jalan Majapahit dan Jalan Veteran, tepat di jantung apa yang dulu disebut "uptown" Batavia.

Kisah di balik gedung itu dimulai di bawah Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1810, ketika arsitek J.C. Schultze, yang juga dikreditkan dengan Gedung Kesenian (teater bersejarah Jakarta dekat Pasar Baru)—diberikan tugas untuk merancang klub yang mampu menyaingi Freemasons. Temboknya dibangun menggunakan bata dari benteng Batavia yang lama untuk melambangkan pergeseran kekuasaan dari pantai yang diperkuat ke ibu kota yang disempurnakan.

Clockwise top left: Tampilan kartu pos awal dari akhir tahun 1890-an dari Sociëteit de Harmonie di samping kanal di Rijswijk (sekarang Jalan Veteran); Dan Jalan Majapahit pada pertengahan abad ke-20, dengan klub masih menjadi pusat kehidupan sosial "uptown" Batavia; Tampilan jalanan Klub Harmonie dan sekitarnya sekitar tahun 1930.

Photo credits, same order: Greetings from JAKARTA: Postcards of a Capital 1900-1950 by Scott Merrillees; JAKARTA: Portraits of a Capital 1950-1980 by Scott Merrillees; Greetings from JAKARTA: Postcards of a Capital 1900-1950 by Scott Merrillees

Ini juga merupakan bagian dari upaya yang disengaja untuk menarik penduduk Eropa dari pusat kota tua di utara (yang sekarang dikenal sebagai kawasan Kota Tua) dan memikat mereka ke distrik selatan yang modis, Weltevreden—berpusat di daerah sekitar Lapangan Benteng saat ini, Medan Merdeka, Jalan Veteran, dan Jalan Juanda. Ambisi ini tercermin dalam arsitektur Neoclassical klub yang megah. Dan meskipun terjadi pengambilalihan Inggris pada tahun 1811, konstruksi terus berlanjut di bawah Sir Stamford Raffles, dengan biaya akhir membengkak menjadi 360.000 rijksdaalders, jumlah yang sangat besar untuk zamannya.

Klub tersebut kemudian dengan cepat menjadi tempat perayaan besar, menyelenggarakan pameran budaya Belanda, peringatan ulang tahun ke-250 kota pada tahun 1869, dan banyak pesta sosial. Setelah kemerdekaan Indonesia, warga Indonesia akhirnya dapat berjalan bebas di bawah langit-langitnya. Ruang dansa yang dulu eksklusif menyelenggarakan pernikahan, konser, resepsi diplomatik, dan bahkan kunjungan dari Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru. Pada tahun 1954, nama klub diubah menjadi Djakarta Club, menjauhkan diri dari masa lalunya yang kolonial.

Tetapi perencana kota pada tahun 1985 memiliki arah yang berbeda untuk Harmonie Club. Dari Maret hingga April tahun itu, bangunan tersebut dibongkar bersama dengan warisannya selama 170 tahun, ditukar dengan jalan yang lebih lebar (Jalan Majapahit) dan tempat parkir tambahan untuk kantor pemerintah. Distrik tersebut mempertahankan nama Harmoni, namun tidak ada satu kolom pun yang tersisa untuk menceritakan kisah tersebut. Pemindahannya menjadi panggilan untuk membangun kesadaran, memicu gerakan awal untuk melindungi warisan arsitektur dan kolonial Indonesia.

Jadi, lain kali mobil Anda melambat di Harmoni, bayangkan lampu gantung berkelap-kelip di atas lantai yang dipoles, dan ingatlah bahwa cerita Jakarta seringkali tersembunyi di tempat-tempat paling biasa.

Sumber:
Merrillees, Scott. Batavia in Nineteenth Century Photographs. Singapura: Archipelago Press (Editions Didier Millet), 2000.
Merrillees, Scott. Jakarta: Portraits of a Capital 1950–1980. Equinox Publishing, 2015.
van Roosmalen, P. K. M. “Changing Views on Colonial Heritage.” 13 Oktober 2003, hlm. 122–128.

로그인한 회원만 댓글 등록이 가능합니다.

정보공유

KR | ID | EN
  • IDR
  • KOR
8.35 -0.01

2026.07.10 KEB 하나은행 고시회차 901회

다가오는 한인 행사일정

  • 등록 된 일정이 없어요!