
Foto-foto dengan izin dari Scott Merrillees
Sulit untuk melewatkan Metropole XXI saat berjalan-jalan di Cikini, Jakarta Pusat. Terletak dekat persimpangan Jl. Diponegoro, Jl. Pegangsaan Timur, dan Jl. Proklamasi, gedung serbaguna itu menonjol dengan eksterior berwarna putih bersih dan menara yang menjulang. Namanya, disusun secara vertikal dalam huruf emas, langsung menarik perhatian.
Dirancang oleh arsitek Liauw Goan Seng, Metropole mengikuti tradisi Art Deco akhir. Jendela sempit yang bertumpuk menarik pandangan ke atas, sementara fasadnya menjaga dekorasi minimal dan struktural, menyukai bentuk bertingkat, tepi bersih, dan permukaan datar. Berakar pada evolusi Art Nouveau yang lebih luas, desain tersebut menekankan geometri dan keseimbangan, menjadikan Metropole salah satu bangunan Art Deco skala besar yang masih jelas dikenali di Jakarta saat ini.
Untuk memahami mengapa gedung itu memegang tempat penting dalam sejarah ibu kota, ada baiknya kita kembali ke momen pembukaannya. Di awal tahun 1950-an, pergi ke bioskop adalah salah satu hiburan paling populer bagi warga Jakarta. Televisi belum tiba, dan bioskop membentuk bagaimana orang menghabiskan waktu di malam hari dan akhir pekan. Mereka dengan cepat berkembang biak di seluruh kota, tetapi Metropole langsung menonjol ketika dibuka pada tahun 1951. Film pertama yang ditayangkan di sana adalah Annie Get Your Gun, dibintangi oleh Betty Hutton dan disutradarai oleh George Sidney.
Metropole, pertengahan abad ke-20— landmark bioskop Art Deco Jakarta di tahun-tahun awalnya.
JAKARTA: Potret Sebuah Ibu Kota 1950-1980 oleh Scott Merrillees
Era itu juga membawa energi baru bagi perfilman Indonesia. Sutradara dan produser lokal sangat produktif, meskipun akses ke tempat pertunjukan utama tetap terbatas. Sebagian besar bioskop kelas satu lebih suka film impor, menganggapnya sebagai pilihan komersial yang lebih aman. Metropole mengganggu pola ini pada tahun 1954 dengan memutar Krisis (Krisis) yang disutradarai oleh Usmar Ismail, setelah ditolak oleh bioskop lain yang terkemuka. Keputusan itu membawa risiko, namun hasilnya menentukan. Film tersebut diputar selama empat minggu dan menarik banyak penonton, memberikan demonstrasi langka bahwa produksi Indonesia dapat sukses di layar yang sama dengan rilis internasional.
Itu memberi Metropole reputasi yang melampaui arsitektur. Itu menjadi tempat di mana kepercayaan pada perfilman lokal dapat diuji di depan umum, di hadapan penonton campuran yang mencakup mahasiswa, pegawai negeri sipil, dan tokoh budaya. Seiring waktu, gedung ini menayangkan film yang ditampilkan selama Festival Film Indonesia pertama pada tahun 1955 dan kemudian mendukung Festival Film Asia Pasifik ke-16 pada tahun 1970.
Nama terbukti kurang stabil daripada gedungnya. Pada tahun 1960, bioskop ini diganti namanya menjadi Megaria berdasarkan arahan Presiden Sukarno, yang menganggap kata “Metropole” terlalu asing, dan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk menegaskan identitas nasional di ruang publik. Di awal era Suharto, nama asli kembali, sebelum menghilang lagi nanti pada periode Orde Baru untuk memberi jalan bagi Teater Megaria.
Eksterior saat ini dari Bioskop Metropole XXI, salah satu landmark Art Deco yang masih bertahan di Jakarta.
Kredit foto: © @jakarta_tourism
Pada tahun 1989, ketika gedung tersebut disewakan ke jaringan bioskop 21 Cineplex, namanya berubah menjadi Metropole 21, kemudian Megaria 21, dan akhirnya Metropole XXI, yang masih digunakan hingga saat ini.
Gedung ini diakui sebagai Situs Warisan Budaya Kelas A berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475/1993, dan terus menayangkan film dalam format yang disesuaikan dengan kebiasaan menonton kontemporer. Auditorium besar tunggal aslinya telah dibagi menjadi teater yang lebih kecil, dan kompleks sekitarnya kini mencakup kafe dan ruang ritel. Eksteriornya tetap utuh, menjaga gedung tetap terikat pada kehidupan sebelumnya.
Sumber:
Haris Jauhari (ed.). Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.
Merrillees, Scott. Jakarta: Portraits of a Capital 1950–1980. Singapore: Equinox Publishing, 2015.
Sri Pudyastuti R., Moebanoe Moera, Dwi S. Irawanto, dan Sarluhut Napitupulu. “Zaman Keemasan Kelompok 21.” Tempo, 29 Juni 1991.
Tjasmadi, H.M. Johan. 100 Tahun Bioskop di Indonesia (1900–2000). Jakarta: Megindo Tunggal Sejahtera, 2008.