Indonesia telah meluncurkan cara baru yang menarik untuk menjelajahi lanskap budaya negara ini. Paspor Museum mengundang pengunjung untuk menemukan sejarah, seni, dan warisan Indonesia melalui serangkaian perjalanan bermakna yang mengubah wisata menjadi petualangan budaya.
Diluncurkan oleh Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan bersama dengan Badan Pelestarian Warisan Indonesia, Paspor Museum mendorong pengunjung untuk bepergian melalui museum-museum di negara ini sambil mengumpulkan cap unik di sepanjang jalan. Lebih dari sekadar souvenir, paspor berfungsi sebagai catatan pribadi tentang penemuan, cerita, dan pengalaman yang dikumpulkan di berbagai destinasi budaya Indonesia.
Pada saat wisatawan semakin mencari pengalaman yang mendalam dan bermakna, inisiatif ini menawarkan alternatif yang menyegarkan untuk pariwisata konvensional. Daripada terburu-buru dari satu atraksi ke atraksi lainnya, pengunjung didorong untuk memperlambat tempo, menjelajahi dengan cermat, dan terlibat dengan harta karun budaya bangsa melalui pameran, artefak, dan narasi sejarah.
Diperkenalkan pada tanggal 16 Juni 2026 bertepatan dengan peringatan empat tahun Yayasan Museum dan Warisan Budaya, program ini mencerminkan upaya yang lebih luas untuk menempatkan museum sebagai ruang yang dinamis untuk belajar, inspirasi, dan dialog. Yang penting, paspor menginspirasi generasi muda untuk merangkul pembelajaran budaya dengan insentif yang menyenangkan dan ‘koleksibel’, yang diharapkan akan menjadi sumber kebanggaan bagi individu saat mereka mengumpulkan cap mereka.
“Setiap cap bukan hanya bukti kunjungan, tetapi juga jejak pengalaman, pengetahuan, dan koneksi dengan cerita yang membentuk identitas nasional kita,” kata Indira Estiyanti Nurjadin, Kepala Museum dan Warisan Budaya.
Saat ini, paspor mencakup 16 museum yang dikelola oleh Badan Layanan Umum Museum dan Warisan Budaya. Dari koleksi luas Museum Nasional di Jakarta dan pameran kontemporer Galeri Nasional, hingga keajaiban prasejarah Museum Manusia Purba Sangiran di Jawa Tengah dan ruang bersejarah Benteng Vredeburg di Yogyakarta, setiap destinasi mengungkapkan bab berbeda dari kisah Indonesia.
Lebih dari sekadar mendokumentasikan kunjungan, Museum Passport juga berfungsi sebagai panduan budaya, menunjukkan kepada pengunjung kekayaan museum dan situs warisan yang mungkin terlewatkan.
Para penyelenggara berharap program ini pada akhirnya akan berkembang untuk mencakup lebih banyak institusi di seluruh negeri, menciptakan jaringan pengalaman budaya yang lebih luas sambil mendukung pariwisata berbasis warisan dan pembelajaran seumur hidup.
Bagi pecinta budaya yang percaya bahwa perjalanan paling berkesan diukur bukan dari jarak yang ditempuh tetapi dari cerita yang dikumpulkan, Museum Passport menawarkan undangan untuk menjelajahi Indonesia satu museum pada satu waktu dan pulang dengan lebih dari sekadar cap pada halaman.
Buku Museum Passport dapat diperoleh di IHA Shop di berbagai museum di bawah Badan Layanan Umum Museum dan Warisan Budaya, seperti Museum Nasional Indonesia, Gramedia Book Stores (Matraman dan Jalma), dan Gramedia.com, dengan harga Rp 89.000,-.
Saat ini, destinasi yang berpartisipasi meliputi:
1. Museum Nasional Indonesia (Jakarta)
2. Galeri Nasional Indonesia (Jakarta)
3. Museum Kebangkitan Nasional Indonesia (Jakarta)
4. Museum Batik Indonesia (Jakarta)
5. Museum Kepresidenan RI Balai Kirti (Jawa Barat)
6. Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan (Jawa Tengah)
7. Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Ngebung (Jawa Tengah)
8. Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Bukuran (Jawa Tengah)
9. Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Manyarejo (Jawa Tengah)
10. Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Dayu (Jawa Tengah)
11. Museum Benteng Vredeburg (Yogyakarta)
12.Museum Perjuangan Yogyakarta (Yogyakarta)
13.Museum Semedo (Jawa Tengah)
14.Museum Song Terus (Jawa Timur)
15.Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy’ari (Jawa Timur)
16.Museum Majapahit (Jawa Timur)
@museumnasionalindonesia
@indonesianheritageagency
museumnasional.or.id