Halo. Ini aku yang hampir mati setelah mendaki Tanjakan Seohu.
Pukul 5 pagi.
Bangun lebih awal dari jam berangkat kerja.
Sambil mengintip wajah bayi yang masih terlelap dalam mimpi, aku turun dari kasur dengan hati-hati agar tidak membangunkannya,
lalu menyiapkan perlengkapan bersepeda dan keluar rumah.
Udara dini hari masih terasa dingin.
Mungkin karena soju semalam, kaki yang mengayuh pedal terasa cukup berat.
Tidak ada yang mau menemani, jadi aku terus mengayuh pedal berat itu seorang diri.
Satu jam kemudian, aku tiba di tempat berkumpul.
Sedang menunggu rombongan, tiba-tiba seseorang menyapaku.
Sekitar 3 tahun? Aku tidak sengaja bertemu adik yang dulu pernah bersepeda bersama.
Begitu bertemu langsung diserang pertanyaan soal perut.
'Kenapa perutmu maju banget ya'
Aku sudah merasakan perut yang semakin membuncit sejak memakai jersey.
Tekanan di bagian perut terasa berbeda dari sebelumnya.
Rute hari ini adalah 3 tanjakan timur lalu TT Paldang
Jumlah bersepeda tahun ini 2x kali / Total jarak tempuh 1000km ^^^^^
Selama ini aku hanya sesekali bersepeda ke kantor dan keluar dua-tiga kali di akhir pekan.
Aku khawatir apakah bisa melewati tanjakan timur yang biasanya hanya kulewati di jalan datar, tapi dengan pikiran "pasti bisa bagaimanapun caranya" aku ikut serta.
(Kalau capek tinggal tuntun sepeda, oink oink)
Masalahnya adalah saat melewati Tanjakan Beot, paha mulai mau kram.
Setelah susah payah melewati Tanjakan Beot, di perjalanan menuju Tanjakan Seohu aku tertinggal dari rombongan dan terpisah.
Untungnya mereka memperlambat kecepatan dan menungguku sehingga aku bisa menyusul, tapi aku tetap tertinggal di tanjakan.
Menyiram diri di Nongbune lalu bergerak menuju Myeongdalli yang rasanya malas untuk didatangi.
Ada seseorang yang menyapaku dan bilang pernah bersepeda bersama Unni Bun... tapi yang aku ingat dari Unni Bun hanyalah tertinggal dan solo ^^^^^^^^
Di punuk unta TT Paldang, aku terengah-engah khawatir tertinggal dari rombongan, sementara paha terus bernyanyi riang dengan kram. (Kram? Riang?)
Sambil memukul-mukul paha, entah bagaimana aku berhasil mengisi perbekalan dan masuk ke Seoul.
Santai-santai Festival Han River 3 jenis membuat jalur sepeda dikuasai sepeda Ttareungi dan para pelari.
Aku tidak yakin bisa menembus kerumunan itu.
Aku juga ingin istirahat.
Katanya rombongan mau pergi makan burger.
Sambil membayangkan burger dan bir, aku menelan ludah lalu naik kereta bawah tanah.
Line 5 di akhir pekan penuh sesak dengan orang.
Berdiri di sudut, baru setelah pindah ke Line 6 aku bisa menarik napas lega dan duduk beristirahat.
Membawa pulang makan siang untuk dimakan bersama si bayi bawang putih.
Setelah menenggak susu orang dewasa yang segar, kadar alkohol dalam darah pun pulih kembali.
Ingin rebahan dan tidur siang, tapi mana mungkin.
Hari ini baru saja dimulai dari sekarang.
Masih ada pekerjaan rumah yang menumpuk, mengurus anak, dan jalan-jalan yang menanti.
Aduuuh.
Aku yang dulu bahkan di musim panas pun malas bangun subuh, malah tidur siang sampai jam 12-an lalu bersepeda di bawah terik matahari ㅠㅠ
Aku yang dulu perutnya memang agak buncit tapi masih bisa terlihat (?) rata (??) kalau dipress pakai innerwear dan bib ㅠㅜ
Aku yang dulu kalau disuruh olahraga perut lebih milih minum siang-siangan di warung makan terdekat lalu lompat-lompatan ㅠㅜ
Aku yang dulu habis bersepeda pulang ke rumah tidur siang lalu malam pergi minum ㅠㅠ
Sekarang beginilah keadaanku orz