Bagi para penggemar yang kecepatannya tidak melebihi 50 km/jam, sistem rantai tunggal tampaknya lebih baik dalam berbagai hal.

59.118.***.***
14
Ini adalah pendapat yang sangat pribadi, jadi saya harap Anda membacanya dengan santai.

Prasyarat utama: Bagi yang berkendara di atas 50km/h
Bagi yang memacu di atas 50, double memang lebih menguntungkan.

Pendahuluan
Sudah menjadi fakta yang terbukti bahwa double chainring pada sepeda road memiliki rasio gigi yang rapat dan menguntungkan untuk kecepatan jelajah di jalan datar, sehingga double chainring yang memanfaatkan sprocket 12 speed SRAM yang rapat merupakan pilihan yang sangat baik. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa single chainring pun sama sekali tidak kalah dalam hal rasio gigi. Hanya saja, single chainring yang saya sebutkan di sini adalah single chainring berukuran agak kecil, yaitu 36t.


Isi
Berdasarkan standar pengendara hobi pada umumnya yang menargetkan kecepatan maksimal di bawah 50km/h, saya akan membandingkan kecepatan berdasarkan rasio gigi pada dua setelan 12 speed SRAM di rentang kecepatan 25km/h ~ 40km/h yang paling sering digunakan (dengan cadence 100). Untuk double chainring, sprocket diatur dengan sprocket 10-28t yang dikenal paling rapat.

1. Kombinasi Single Chainring (36t)
Sprocket: 10-33t (10-11-12-13-14-15-17-19-21-24-28-33)

Perubahan kecepatan di rentang 25~40km/h: 38.3(12t) ➔ 35.3(13t) ➔ 32.8(14t) ➔ 30.6(15t) ➔ 27.0(17t) ➔ 24.2(19t) (km/h)

2. Kombinasi Double Chainring (46/33t)
Sprocket: 10-28t (10-11-12-13-14-15-16-17-19-21-24-28)

Saat menggunakan Outer (46t): 39.1(15t) ➔ 36.7(16t) ➔ 34.5(17t) ➔ 30.9(19t) ➔ 27.9(21t) ➔ 24.5(24t) (km/h)

Saat menggunakan Inner (33t): 38.3(11t) ➔ 35.1(12t) ➔ 32.4(13t) ➔ 30.1(14t) ➔ 28.1(15t) ➔ 26.3(16t) ➔ 24.8(17t) (km/h)

Melihat data tersebut, memang benar bahwa double chainring yang menggunakan sprocket 10-28t memiliki rasio gigi yang sangat rapat karena menyertakan cog 16t. Namun jika kita mencermati data single chainring (36t + 10-33t), kita bisa menemukan fakta yang mengejutkan.

Sprocket SRAM 10-33t tersusun rapat dengan interval 1t dari 10t hingga 15t, dan karena karakteristik single chainring 36t yang menggunakan cog dengan jumlah gigi lebih kecil dibandingkan chainring outer 46t, perubahan kecepatan kombinasi single chainring di rentang 30km/h ~ 38km/h yang paling sering digunakan saat jelajah di jalan datar adalah 38.3(12t) ➔ 35.3(13t) ➔ 32.8(14t) ➔ 30.6(15t), dengan selisih rasio gigi antar tingkat hanya sekitar 2.2~3km/h.

Sebaliknya, mari kita lihat saat berkendara dengan outer 46t pada double chainring. Karena chainring depan (46t) itu sendiri lebih besar dari single (36t), meskipun cog sprocket berubah dengan interval 1t yang sama, rentang pergerakan rasio gigi pun menjadi lebih besar. Faktanya, saat menggunakan outer 46t, kecepatan berubah dari 39.1 ➔ 36.7 ➔ 34.5 ➔ 30.9, yang menunjukkan bahwa meskipun menggunakan sprocket 10-28t yang disebut rapat, akibat ukuran chainring, selisih kecepatan antar tingkat justru lebih besar dibandingkan setelan single 36t.

Untuk inner chainring 33t, memang memberikan rasio gigi yang lebih rapat di rentang tersebut. Namun menggunakan inner chainring 33t sebagai andalan menimbulkan masalah cross-chain, dan jika rentang ini sudah habis dipakai dengan inner chainring 33t, maka chainring 46t hanya digunakan saat melaju lebih cepat dari itu, sehingga alasan keberadaannya pun berkurang drastis.

Pada akhirnya, untuk memanfaatkan kerapatan double chainring secara sempurna, Anda harus sering melakukan perpindahan gigi tambahan seperti menaikkan chainring depan sesuai perubahan kecepatan sambil menurunkan sprocket belakang secara bersamaan. Namun jika Anda bergantian mengoperasikan derailleur depan dan belakang hanya demi rasio gigi yang sedikit lebih rapat, alur pedaling akan terputus dalam proses perpindahan gigi dan terjadi kehilangan tenaga, yang justru menurunkan efisiensi berkendara secara keseluruhan.

Terlebih lagi, dalam kombinasi single chainring ini, kombinasi chainring 36t dan sprocket 33t saat tanjakan dapat mengamankan rasio gigi yang cukup baik yaitu sekitar 1.09, sehingga rasio gigi tanjakan yang lebih nyaman dibandingkan kombinasi double chainring yang disebutkan di atas pun dapat diperoleh.


Kesimpulan
Double chainring 10-28t 12 speed SRAM adalah kombinasi yang sangat baik dengan rasio gigi yang rapat. Namun single chainring yang mengombinasikan 36t dan 10-33t juga menunjukkan kerapatan yang tidak kalah dengan double chainring di rentang kecepatan yang paling dibutuhkan.
Berdasarkan standar pengendara hobi pada umumnya yang tidak memacu hingga kecepatan maksimal 50km/h, single chainring bisa menjadi pilihan yang lebih menarik dan rasional — berkendara lebih intuitif dan bersih tanpa masalah perpindahan gigi, penghematan bobot minimal 300g, hingga penghematan biaya.
로그인한 회원만 댓글 등록이 가능합니다.

자전거당

KR | ID | EN
  • IDR
  • KOR
8.34 -0.01

2026.07.10 KEB 하나은행 고시회차 1179회

다가오는 한인 행사일정

  • 등록 된 일정이 없어요!