Penelitian dari University of Arizona menunjukkan bahwa chatbot AI, seperti ChatGPT dan lainnya, dapat "kena mental" jika terus ditekan dengan informasi yang salah. Dalam uji coba dengan 100 pernyataan palsu, sebagian besar model AI akhirnya ikut membenarkan klaim tersebut setelah diulang berkali-kali. ChatGPT-3.5 terbukti paling mudah goyah, membenarkan 12,3% pernyataan salah setelah diulang 50 kali. Model lain seperti Claude 3.5 Sonnet dan GPT-4o lebih jarang ikut mengiyakan informasi palsu. Peneliti juga menemukan fenomena "reverberation" dimana beberapa chatbot berganti-ganti antara menyetujui dan menolak informasi yang sama. Chatbot cenderung lebih mudah menerima klaim palsu tentang topik yang kurang populer atau memiliki sedikit informasi di internet.