Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa ekonomi Indonesia dinilai tidak efisien berdasarkan angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang tinggi, yaitu sekitar 6,5. Angka ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kekayaan sebesar satu rupiah, dibutuhkan pengeluaran sebesar enam setengah rupiah. Prabowo membandingkan ICOR Indonesia dengan negara tetangga yang lebih efisien, dengan skor ICOR di kisaran 3-4. Ia menuding inefisiensi birokrasi dan praktik pengelembungan harga sebagai penyebab utama kebocoran dana negara. Sejak menjabat, pemerintah telah melakukan efisiensi anggaran besar-besaran untuk mengalokasikan dana ke program yang lebih berdampak seperti makan bergizi gratis dan pembangunan jembatan.