Restoran ROSO Yogyakarta membuka babak baru dalam lanskap kuliner kota, menggabungkan masakan Indonesia,
warisan budaya dan suasana bersejarah.
Dibuka pada Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2026, ROSO menempati bangunan asli Grand Hotel De Djokja, sebuah landmark yang berdiri di jantung Yogyakarta sejak tahun 1911. Selama lebih dari satu abad, hotel ini telah menyaksikan perubahan karakter kota dan menyambut generasi wisatawan. Hari ini, lingkungan bersejarahnya mengambil peran baru sebagai tempat bagi restoran yang didedikasikan untuk menjelajahi Indonesia melalui makanan.
Bagi Andreas Kahl, General Manager Grand Hotel De Djokja, signifikansi ROSO terletak tepat pada lokasinya. Hotel ini bukan properti baru yang mengadopsi identitas historis, tetapi tempat yang telah menjadi bagian dari sejarah Yogyakarta selama lebih dari satu abad. Di antara tokoh-tokoh terkemuka yang terkait dengan hotel adalah Jenderal Soedirman, koneksi beliau dengan properti ini berasal dari periode penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dengan ROSO, sejarah itu berlanjut dalam bentuk yang berbeda. Tradisi hotel untuk menyatukan orang dilanjutkan melalui makanan, memungkinkan generasi baru tamu untuk mengalami bangunan sambil menemukan bagian penting lainnya dari identitas Indonesia.
Restoran ini dipandu oleh filosofi ‘Ekspresi Terbaik Rasa Indonesia’, sebuah konsep yang menempatkan warisan kuliner Indonesia di pusat pengalaman. Daripada mengubah secara radikal hidangan tradisional, ROSO mengambil resep, bahan, dan rasa yang familiar dan menyajikannya melalui teknik yang matang dan presentasi kontemporer.
Bagi Philip Walasary, Direktur Food & Beverage dan Executive Chef Grand Hotel De Djokja, pendekatan ini dimulai dengan memahami cerita di balik makanan. Masakan Indonesia dibentuk oleh generasi tradisi, bahan regional, dan pengaruh budaya, dan setiap hidangan membawa sesuatu dari tempat asal.
Pemahaman itu menginformasikan pengembangan menu. Tim kuliner melihat lebih dari sekadar teknik ke kenangan dan asosiasi budaya yang terkait dengan rasa tertentu, dari keakraban masakan rumah hingga resep yang secara tradisional disajikan selama perayaan dan acara khusus. Tujuannya adalah untuk menciptakan hidangan yang terasa kontemporer sambil tetap dikenali sebagai masakan Indonesia.
Filsafat ini tercermin dalam menu yang menjelajahi seluruh kepulauan.
Salah satu sorotan menunya adalah Tempe dalam Gegurit Rasa, yang mengambil salah satu bahan makanan paling familier di Indonesia dan memberikannya ekspresi yang lebih raffin. Disajikan melalui Lemper Tempe, Tempe Coin dan Tempe Cone, hidangan ini menggabungkan rasa tradisional dengan tekstur berbeda dan aroma lembut daun basil segar. Ini menunjukkan bagaimana bahan makanan sehari-hari dapat diubah tanpa kehilangan karakter budayanya.
Perjalanan berlanjut ke Sumatera Utara dengan Naniura, persiapan ikan asin tradisional Batak. Di ROSO, salmon premium dipersiapkan dengan lebih dari 20 rempah asli, menghasilkan interpretasi yang hidup dan harum dari hidangan yang tetap erat kaitannya dengan tradisi kuliner orang Batak.
Dari Bali datang Lobster Base Genep, memadukan ekor lobster rebus mentega dengan saus Base Genep, daun bawang panggang, basil dan minyak jeruk kaffir. Terinspirasi oleh campuran rempah Bali yang terkenal, hidangan ini menyatukan kekayaan rasa Bali dengan presentasi yang lebih ringan dan kontemporer.
Kreasi Bali lainnya, Sampi Menyat-Nyat, mengambil arah yang lebih nyaman. Daging iga sapi US Prime direbus perlahan dengan rempah tradisional hingga empuk, lalu disajikan dengan nangka muda, biji lokal dan remahan sambal embe. Kombinasinya mencerminkan karakter masakan Bali yang berani dan bertingkat sambil mempertahankan kehangatan yang terkait dengan makanan Indonesia.
Lebih dekat ke rumah, menu ini mengambil inspirasi dari warisan kuliner Yogyakarta sendiri melalui Manuk Nom, terinspirasi oleh tradisi dapur kerajaan kota. Hidangan ini merupakan bagian dari eksplorasi lebih luas budaya kuliner Yogyakarta, menyatukan tradisi kuliner yang dulunya terkait dengan pesta kerajaan dan acara seremonial dengan rasa yang tetap familier bagi pengunjung lokal.
Menu ini juga menghubungkan ROSO Yogyakarta dengan tujuan saudara di Bali. Pilihan pembukaan menampilkan kreasi kolaboratif oleh Chef Prima dan Chef Kolibin, bersama dengan inspirasi andalan pilihan dari ROSO Bali. Meskipun kedua restoran berbagi filosofi yang sama, masing-masing memungkinkan menunya merespons karakter budaya lingkungan sekitarnya.
Di Yogyakarta, koneksi ke tempat itu sangat signifikan. ROSO terletak di dalam gedung yang telah menyaksikan lebih dari satu abad sejarah kota, sementara menunya melihat lanskap yang lebih luas, dari Sumatera Utara dan Bali hingga dapur kerajaan Yogyakarta dan bahan-bahan sehari-hari yang ditemukan di seluruh kepulauan.
Di ROSO, perjalanan melalui masakan Indonesia pada akhirnya adalah perjalanan melalui Indonesia itu sendiri, satu wilayah, bahan, dan tradisi pada satu waktu.
ROSO Restaurant Yogyakarta, di Grand Hotel De Djokja
Jl. Malioboro No. 60, Suryatmajan, Yogyakarta
+628112941600
@grandhoteldedjokja
dedjokja.com