Mohammad Hatta dengan keluarganya: (dari kiri) Mohammad Hatta, Meutia Farida Hatta,
Gemala Rabi’ah Hatta, Halida Nuriah Hatta, dan istrinya, Siti Rahmiati Hatta. Foto courtesy of Keluarga Mohammad Hatta.
Untuk menghormati Hari Kemerdekaan Indonesia, NOW! Jakarta duduk bersama putri mantan Wakil Presiden, Halida Nuriah Hatta, untuk merenungkan warisan ayahnya.
Bersama Presiden Sukarno, Mohammad Hatta —yang akrab dipanggil Bung Hatta— memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan negara ini. Sebagai wakil presiden pertama, ia mengkampanyekan diplomasi, pembangunan ekonomi, dan aksi politik non-kekerasan. Kontribusinya membantu Indonesia menuju kedaulatan dan kemajuan, sementara ide-idenya tentang demokrasi, koperasi, dan keadilan sosial terus menginspirasi generasi orang Indonesia.
Saat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan ke-81, kepemimpinan, integritas, dan dedikasi Hatta tetap relevan seperti dulu. Dalam renungan putrinya yang bungsu, Halida Nuriah Hatta, kita menengok kembali nilai-nilai dan prinsip yang membentuk salah satu bapak pendiri bangsa.
Seperti kakak perempuannya, Meutia Farida Hatta dan Gemala Rabi’ah Hatta, Halida telah mengabdikan dirinya untuk melestarikan dan mempromosikan warisan ayahnya. Melalui ceramah, seminar, dan diskusi publik, mereka terus berbagi prinsip kepemimpinan Bung Hatta, yang mereka yakini tetap penting bagi para pengambil keputusan saat ini, pejabat publik, dan warga negara untuk menjaga kemerdekaan Indonesia dan memperkuat bangsa yang dibangun di atas integritas.
Lahir pada 25 Januari 1956, Halida berusia kurang dari setahun ketika Bung Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember tahun itu. Meskipun terlalu muda untuk menyaksikan langsung, ia tumbuh belajar tentang kontribusi luar biasa ayahnya bagi negaranya yang baru merdeka. Salah satu pencapaian yang paling jelas diingatnya adalah perannya dalam memimpin delegasi di Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada tahun 1949, di mana ia membantu mengamankan pengakuan internasional atas kedaulatan Indonesia.
Negosiasi tersebut, menyusul Perjanjian Linggadjati, Renville, dan Roem–Roijen, akhirnya mengarah pada penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia. Di luar panggung internasional, Bung Hatta juga terlibat dalam dialog dengan pemimpin politik regional dan kerajaan di seluruh kepulauan, membangun konsensus dan kepercayaan untuk menyatukan mereka menjadi satu bangsa.
“Saya selalu ingat Bung Hatta mengatakan bahwa diplomasi adalah tentang negosiasi, konsultasi, dan pencapaian hasil secara bertahap. Ini membutuhkan keterampilan dan pemahaman. Kita harus mengenal pihak lain sebaik kita mengenal kepentingan kita sendiri. Sebelum bernegosiasi, kita harus menata rumah kita sendiri, karena itulah yang tercermin di luar negeri. Yang terpenting, bangsa harus menjunjung tinggi martabatnya,” kenang Halida.
Halida Nuriah Hatta. Foto dengan izin dari Keluarga Mohammad Hatta.
Bung Hatta, tambahnya, memiliki kemampuan langka untuk beradaptasi dengan situasi yang berbeda tanpa mengorbankan prinsipnya. Sebagai negarawan, ia memahami pentingnya integritas dan citra yang diproyeksikan kepada masyarakat internasional, menyadari bahwa setiap tindakan mencerminkan perjuangan dan aspirasi Indonesia. Namun ketika berada di antara orang biasa, ia berbicara dengan rendah hati dan hangat, terlibat dengan mereka sebagai sederajat.
Kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab pribadi adalah nilai-nilai yang ia terapkan secara konsisten sepanjang hidupnya. Halida juga ingat seringkali ayahnya mengingatkan bahwa memegang posisi penting membawa kewajiban yang lebih besar untuk menjadi teladan bagi orang lain.
“Menjaga reputasi baik bukanlah hal yang mudah. Seperti yang selalu dikatakan ibu saya: noblesse oblige [ke bangsawanan mewajibkan]. Menjadi teladan berarti menunjukkan perilaku yang baik dan mengendalikan diri. Itulah cara Bung Hatta hidup. Ia menghormati komitmennya. Ia disiplin tanpa otoriter. Ia percaya pada proses, tetapi ia juga percaya untuk melakukan segala upaya untuk mencapai hasil. Ia tetap setia pada prinsip-prinsipnya, dan untuk menegakkan prinsip-prinsip tersebut, seseorang harus memiliki rencana yang jelas.”
Halida mengamati bahwa era Reformasi membawa keterbukaan politik yang lebih besar, tetapi juga menyebabkan munculnya beberapa pusat kekuasaan dan kepentingan yang bersaing. Menurut pandangannya, kurangnya cek dan keseimbangan yang memadai memungkinkan kepentingan pribadi untuk semakin mempengaruhi pembuatan kebijakan. Ia berpendapat bahwa beberapa pembuat undang-undang memprioritaskan kepentingan pribadi dan bisnis daripada tanggung jawab mereka untuk mewakili rakyat.
Merefleksikan pandangan ayahnya, Halida menekankan bahwa Bung Hatta menganggap pemerintahan pada dasarnya adalah masalah tata kelola yang baik dan pembangunan institusi.
“Pemerintahan, seperti yang sering dikatakan Bung Hatta, adalah tentang tata kelola. Sistem apa yang ingin kita bangun? Jika apa yang kita lihat dan hadapi hari ini masih ditandai dengan kekurangan dan kesalahan, maka kita harus memiliki keberanian untuk mengatasinya dan memperbaikinya,” katanya.
Lebih dari tujuh dekade setelah Indonesia mencapai kemerdekaan, warisan Bung Hatta terus bergema. Komitmennya terhadap diplomasi, integritas, dan kepemimpinan yang berprinsip menawarkan pelajaran yang abadi bagi bangsa yang menghadapi tantangan baru di dunia yang berubah dengan cepat.
Bagi Halida, nilai-nilai ini tetap menjadi inti dari kontribusi ayahnya untuk Indonesia—bukti bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian, tetapi juga dari karakter.