Halo,
Bulan Desember tahun lalu, saya ingin berbagi pengalaman saat berjuang dengan pejabat imigrasi tentang masalah alamat.
Tentu saja yang terbaik adalah tidak mengalami situasi seperti yang saya alami, tetapi untuk mereka yang mungkin menghadapi situasi serupa, saya menulis ini. 😊
Awal Kejadian: SMS Panggilan dari Imigrasi
Awal November, saya menerima SMS dari kantor imigrasi. "Datanglah untuk diperiksa."
Saya mengatur jadwal dan hadir di lantai 5 kantor imigrasi Jakarta Selatan. Di sana, saya harus menaruh semua barang bawaan di loker dan masuk dengan tangan kosong, yang membuat saya sedikit tegang.
Awal Masalah: Kegagalan Melaporkan Perubahan Alamat Kantor
Masalahnya seperti ini. Perubahan alamat kantor dan pembaruan visa terjadi bersamaan, jadi saya memperpanjang kitas terlebih dahulu, (laporan perubahan alamat kantor) - perubahan alamat di NIB memakan waktu 2 bulan untuk diproses dan saya belum sempat melaporkan perubahan alamat ke imigrasi.
Sementara itu, tim investigasi imigrasi melakukan pemeriksaan acak dan mendatangi alamat kantor lama (alamat di dokumen), mereka mengetahui tentang relokasi kantor, dan mulai membuat masalah karena saya belum melaporkan perubahan alamat.
Mereka mengeluarkan buku peraturan yang disebut "buku ajaib" dan mengancam "ini bisa berujung pada deportasi!", mereka membuat laporan penggeledahan, menyita paspor saya, dan mengirim saya pulang. Buku peraturan tebal itu tidak menjelaskan apakah alamat yang dimaksud adalah alamat tempat tinggal atau juga termasuk alamat kantor. Saya menyadari ini adalah kasus interpretasi yang ambigu tergantung sudut pandang. Jujur, saya sangat ketakutan, tetapi saya memutuskan untuk menunggu dulu.
Putaran 1: Tidak Goyah Terhadap Ancaman
Ketika saya menceritakan tentang penyitaan paspor kepada orang-orang di sekitar saya, mereka mengatakan bahwa jika tidak diselesaikan dengan cepat akan menjadi masalah, ada berbagai saran, termasuk mengapa saya membiarkan paspor diserahkan terlebih dahulu, tetapi tidak ada tempat yang memberikan konsultasi khusus yang sesuai dengan situasi saya. Saya berkonsultasi dengan pejabat tinggi yang merupakan orang tua siswa di sekolah, tetapi dia mengatakan dengan jujur bahwa jika melaluinya, saya hanya akan mengeluarkan dua kali biaya. Dia mengatakan jawaban terbaik adalah bernegosiasi dengan baik!
Dua minggu kemudian, imigrasi menghubungi saya lagi. "Bagaimana? Apakah kita lanjutkan proses deportasi?"
Direktur perusahaan kami mengatakan: "Manajemen tempat tinggal asing adalah tanggung jawab imigrasi, tetapi bukankah manajemen alamat perusahaan adalah tanggung jawab badan investasi? Mengapa ada pembicaraan tentang deportasi?" Dan dia menambahkan: "Saya juga penasaran apakah proses deportasi benar-benar mungkin, jadi silakan lanjutkan~" Kunci utamanya adalah tetap tenang dan menghadapi dengan santai.
Putaran 2: Mulai Bernegosiasi
Meskipun paspor saya disita, saya tidak menghiraukan dan tidak pernah menghubungi mereka terlebih dahulu.
Seminggu kemudian, mereka menghubungi saya lagi. "Jadi, bagaimana? Datanglah minggu depan dan selesaikan ini, baik itu deportasi atau apa pun."
Merasa frustasi, saya bertanya kepada firma konsultasi lokal, dan mereka mengatakan: "Biasanya dalam kasus seperti ini, memberikan sekitar 30 juta rupiah per orang akan menyelesaikannya. Karena ada dua direktur terdaftar, itu akan memakan biaya sekitar 60 juta rupiah." Mengantisipasi biaya 50 juta rupiah, saya pergi bernegosiasi sendiri. Saya tidak membawa uang tunai terpisah.
Para investigator menunjukkan dokumen proses deportasi dan mencoba menakut-nakuti saya, tetapi saya tetap tenang.
"Saat ini saya hanya memiliki 20 juta rupiah di rekening saya. Jika diperlukan lebih banyak, tunggu bulan depan."
Saya dengan tegas mengajukan tawaran seperti itu.
Putaran 3: Kendali Ada di Tangan Saya
Saya konsisten dalam sikap bahwa yang frustasi bukan saya. Meskipun saya ingin menanyakan "bagaimana perkembangannya?" lebih dari 10 kali, saya menahan diri dan menunggu dengan sabar.
Akhirnya, setelah para investigator berkonsultasi dengan atasan mereka, mereka mengatakan "20 juta rupiah sudah cukup" dan mengembalikan paspor dan semua dokumen terkait.
Kesimpulan: Negosiasi adalah Kekuatan.
Apa yang saya pelajari dari insiden ini adalah bahwa negosiasi dan kesabaran adalah kunci di tempat seperti kantor imigrasi.
Jangan tergoyah oleh taktik intimidasi, tetap tenang, pegang kendali, dan bernegosiasi. Anda dapat menyelesaikan masalah tanpa mengeluarkan lebih dari yang benar-benar diperlukan.
Sebagai catatan, negosiasi ini saya lakukan dalam kondisi di mana saya hanya bisa berbicara bahasa Indonesia yang terbatas, tetapi itu justru membantu. Direktur rekan saya yang fasih dalam bahasa Indonesia menunjukkan emosi dan marah selama percakapan. Pada hari terakhir, saat saya menyelesaikannya sendiri dengan gestur dan isyarat, negosiasi justru berjalan lebih lancar.
Sepertinya perubahan alamat kantor juga harus dilaporkan ke imigrasi dengan mutasi alamat seperti halnya perubahan alamat tempat tinggal. Jika Anda menunggu sampai perpanjangan berikutnya karena jadwalnya tidak jelas, Anda mungkin harus mengeluarkan biaya besar seperti yang saya lakukan untuk menyelesaikan sesuatu yang dapat diselesaikan dengan biaya kecil, jadi sebaiknya tangani ini lebih awal.